Energi Kebajikan

0
821

Ngainun Naim

 

Apa yang kita tulis atau share di media sosial adalah representasi diri kita. Ia bukan sekadar informasi tetapi juga menyebarkan energi. Bisa energi positif, bisa energi negatif.

Inilah era yang disebut filosof Jean Baudrillard sebagi era “retaknya ruang privat”. Aspek yang di masa lalu merupakan rahasia, kini diobral tanpa malu untuk menjadi konsumsi publik. Muaranya adalah kesenangan, kepuasaan, kekuasaan, atau keuangan. Bisa salah satu, dua, atau semuanya.

Media sosial kini banyak diwarnai oleh konten panas. Wawancara hal-hal sensitif seputar ranjang merajalela. Iklan-iklan beraroma seksual tersebar luas. Tampilan yang bertentangan dengan normativitas agama dan moral semakin biasa.

Sebagai umat beragama, kita harus meresahkan atau merisaukan terhadap fenomena semacam ini. Moralitas kini tengah mengalami kemunduran akut. Ukuran moral semakin diabaikan. Pelanggaran moral  menjadi biasa, bahkan menjadi standar moral baru.

Moralitas berkaitan dengan tatanan masyarakat. Ketika moralitas semakin banyak dilanggar maka tatanan sosial juga akan terganggu. Pelanggaran semakin mudah untuk ditemukan.

Tentu kita harus melakukan usaha-usaha yang bisa memberikan kontribusi penting bagi ditaatinya moralitas. Tidak harus berupa usaha yang bersifat monumental. Usaha kecil dan sederhana bisa memberikan kontribusi sepanjang dilakukan secara konsisten.

Di era sekarang salah satu hal yang bisa kita lakukan membagikan konten positif, apa pun bentuknya. Hal-hal positif itu akan memberikan energi positif. Persoalan besar atau kecil pengaruh itu persoalan lain. Aspek yang penting adalah terus berbagi tentang kebajikan.

Kebajikan di media sosial itu memiliki efek berantai. Pengaruhnya bisa menembus batas ruang dan waktu. Semakin banyak aspek positif yang kita bagi, semakin besar pengaruhnya dalam kehidupan.

Inilah yang harus kita lakukan. Energi negatif dari konten negatif tidak sekadar dikutuk tapi diberikan tandingan yang positif. Lewat cara semacam ini diharapkan efek merusak bisa dikendalikan.

Teknologi sendiri watak dasarnya netral. Positif atau negatif itu tergantung pengguna. Di sini terjadi kontestasi kepentingan.

Spirit untuk menyebarluaskan kebajikan sebaiknya terus dipupuk. Konteks relevansi juga harus menjadi bahan pertimbangan.

Sepanjang masih ada orang yang peduli dan konsisten melakukan kebajikan, payung moralitas akan tetap terjaga. Kerusakan masih bisa diantisipasi. Semoga.

 

Trenggalek. 25.2.2023

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here