MENJADI ISTIMEWA DENGAN MENGENALI POTENSI DIRI

0
243

Renungan Harianku (1)

Oleh : Agung Nugroho Catur Saputro*

Allah Swt adalah Tuhan yang Maha Menciptakan. Semua makhluk ciptaan Allah Swt adalah sempurna, tidak ada yang namanya produk gagal dari setiap makhluk ciptaan-Nya. Tidak ada yang tidak sempurna dari setiap ciptaan Allah Swt. Setiap ciptaan Allah Swt pasti mengandung hikmah dan pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan manusia.

Manusia merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah Swt yang memiliki keistimewaan. Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini telah dibekali potensi diri yang luar biasa. Manusia tidak pernah mampu mengukur batas kemampuan/potensi yang dimiliki dirinya yang merupakan karunia sang Khalik hingga ia meninggalkan dunia fana ini.

Manusia memiliki keistimewaan dibandingkan makhluk ciptaan Allah Swt lainnya. Allah Swt mengistimewakan manusia dibandingkan makhluk ciptaaan-Nya yang lain dengan membekali setiap bayi yang lahir ke dunia ini dengan dua kenikmatan yaitu nikmat akal dan nikmat nafsu. Dengan dua nikmat inilah manusia menjadi makhluk yang berbeda dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah Swt yang lain.

Allah Swt mengistimewakan manusia dibandingkan makhluk lain dengan mengkaruniainya bentuk jasmani dengan sebaik-baik bentuk. Bukti kasih sayang Allah Swt kepada manusia tersebut dapat kita temukan dalam firman-Nya di dalam Al-Quran.

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tiin [95] : 4).

Disamping karunia bentuk jasmani yang bagus, Allah Swt juga membekali  setiap manusia dengan karunia akal dan nafsu. Dengan akal, manusia memiliki kemampuan untuk menalar segala informasi dan peristiwa/kejadian di alam.  Dengan akal, manusia mampu memikirkan gejala alam hingga mampu mengembangkan ilmu sains. Dengan karunia akal, manusia mampu mengembangkan teknologi untuk mendukung kehidupannya. Karena memiliki nafsu, maka manusia memiliki keinginan untuk hidup lebih baik lagi. Karena nafsu, manusia memiliki keinginan untuk mengolah dan mengelola alam untuk mendukung kehidupannya. Melalui bekal akal dan nafsu inilah, manusia diberi tugas oleh Allah Swt sebagai khalifah fi al-ardhi. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah [2] : 30).

Manusia adalah makhluk terpilih yang dikehendaki Allah Swt untuk menghuni bumi. Walau pada awalnya para malaikat ragu apakah manusia akan mampu menjadi khalifah di bumi, tetapi Allah Swt segera membantah keraguan para malaikat tersebut dengan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”(QS. Al Baqarah [2] : 30).

Allah Swt telah mempercayakan bumi ini kepada kita, seluruh umat manusia. Allah Swt telah memilih kita semua sebagai khalifah-Nya untuk mendiami dan mengelola bumi ini. Allah Swt telah memberi kepercayaan penuh kepada seluruh umat manusia untuk menjaga dan mengelola bumi ini dengan sebaik-baiknya. Untuk mendukung tugas mulia tersebut, Allah Swt telah mengkaruniai nikmat akal dan nikmat nafsu yang tidak diberikan kepada makhluk yang lain. Melalui dua nikmat Allah Swt tersebut, diharapkan manusia mampu dan mau mengolah dan mengelola bumi beserta seluruh isinya dengan sebaik-baiknya. Apakah kita tidak bangga dipilih menjadi khalifah-Nya Allah Swt? Apakah kita tidak bangga menjadi makhluk yang diistimewakan oleh Allah Swt? Apakah kita tidak malu jika tidak mampu menggunakan nikmat akal dan nafsu secara bijaksana? Tidakkah kita malu jika kita belum maksimal menggunakan bekal potensi diri yang dikarunaikan Allah Swt?

Kita seharusnya bersyukur karena Allah Swt telah membekali diri kita dengan bekal potensi diri yang luar biasa. Kita tidak pernah mampu mengukur sampai mana batas potensi diri yang kita miliki. Hanya Allah saja yang mengetahui batas kemampuan/kompetensi yang mampu diraih setiap manusia. Tugas manusia hanyalah mengeksplorasi semua kemampuan/kompetensi yang dimilikinya untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Satu-satunya cara untuk mengetahui potensi kemampuan/kompetensi apa saja yang dimiliki, setiap orang harus mencobanya dengan belajar.

Seorang anak kecil tidak akan pernah tahu apakah ia mampu mengendarai sepeda sampai ia mau belajar mengendarai sepeda. Seorang anak tidak akan pernah tahu apakah ia mampu berbicara dan berpidato di depan banyak orang hingga ia mau mulai mencoba belajar berpidato di depan banyak orang. Demikian juga dalam hal kemampuan menulis. Seseorang tidak akan pernah tahu apakah ia memiliki kemampuan menulis sampai ia mau belajar dan memulai menulis.

Sebagai ilustrasi, berikut ini adalah pengalaman pribadi penulis memulai aktivitas menulis hingga sekarang. Penulis dulu tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang penulis. Penulis dulu tidak pernah membayangkan kalau suatu saat nanti menekuni bidang kepenulisan. Dulu penulis hanyalah seorang anak desa yang menjalani kehidupan bagaikan air mengalir, sekadar menjalankan tugas perkembangan yang memang harus dijalani sebagai bentuk manifestasi kehendak Allah Swt.

Awalnya dulu waktu kecil penulis lebih menyukai aktivitas menggambar dan melukis. Seiring waktu minat menggambar dan melukis mulai pudar dan secara pelan tapi pasti penulis mulai tidak suka menggambar dan melukis lagi. Ketika menempuh pendidikan tingkat sarjana, penulis mulai menyukai aktivitas menulis dengan mulai sering mengikuti lomba-lomba karya tulis tingkat mahasiswa. Sewaktu menempuh pendidikan S1, penulis pernah menjuarai beberapa  lomba karya tulis mahasiswa. Pengalaman menang lomba tersebut semakin memantapkan diri penulis untuk menekuni aktivitas menulis.

Setelah lulus S1, minat terhadap aktivitas menulis masih tetap berlanjut. Ketika menjadi guru kimia SMA di kota Surakarta, penulis pernah memperoleh juara 1 pada lomba karya tulis ilmiah tingkat guru di sekolah tempat penulis mengabdi. Berbekal pengalaman memenangi lomba karya tulis ilmiah tersebut, penulis terus dan semakin yakin menekuni aktivitas menulis dan bahkan mulai merambah ke belajar menulis buku. Walau awalnya mengalami kegagalan karena masih minimnya bekal kemampuan menulis buku, tetapi berkat semangat mengasah diri dengan terus belajar meningkatkan kemampuan diri dengan terus berlatih menulis. Akhirnya perjuangan belajar menulis buku tersebut membuahkan hasil dengan pernah menjadi juara 1 tingkat nasional bidang kimia pada lomba penulisan buku pelajaran MIPA MA/SMA yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI.

Melalui aktivitas menulis [buku] inilah akhirnya penulis sekeluarga memetik buah manisnya dengan mampu membeli sebuah rumah dari hasil royalty penerbitan buku. Rumah yang sekarang penulis tempati bersama keluarga ini adalah bukti dari ketekunan dan kesabaran penulis dalam mengeksplorasi dan menemukan potensi diri [yang terpendam] yang dikaruniakan oleh sang Maha Pencipta. Maka, nikmat Allah manakah yang masih akan kita dustakan? Wallahu a’lam [].

 

Gumpang Baru, 08/10/2019

*Staff Pengajar, Penulis Buku dan Pegiat Literasi di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta

*Mahasiswa S3-Program Studi Pendidikan Kimia PPs Universitas Negeri Yogyakarta

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here