Unisma, Literasi, dan Inspirasi

0
516

Oleh: Ngainun Naim

Jarum jam menunjukkan pukul 07.20 WIB saat kendaraan yang saya tumpangi parkir di depan Gedung Rektorat Universitas Islam Malang. Saya menatap gedung megah tersebut. Kekaguman saya muncul. Kebanggaan terpancar dalam dada.
Tiba-tiba ingatan saya bak mesin waktu, mundur hampir dua dasawarsa. Saat itu, awal tahun 2000. Saya baru saja gagal mendapatkan beasiswa Pascasarjana di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebenarnya saya bisa saja bertahan di Jakarta, tetapi nyali saya ciut. Saya tidak siap menghadapi kerasnya hidup di Ibu Kota.Keuangan menjadi persoalan tersendiri bagi saya saat itu. Saya belum memiliki pekerjaan yang menjanjikan.

Bergantung kepada orang tua sudah tidak mungkin lagi karena selama ini saya sudah berusaha untuk mandiri. Sementara tetap kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah tanpa beasiswa jelas terlalu berat.

Studi S-2 menjadi semacam mimpi personal kala itu. Saya pun pulang kampung. Sesungguhnya saya masih memendam mimpi untuk kuliah di kampus negeri, misalnya IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta atau IAIN Sunan Ampel Surabaya. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, saya tidak berani mengambil resiko. Saya tahu diri.

Di tengah kebimbangan setelah kegagalan di Jakarta, saya mulai bekerja. Saat itu saya menjadi pendamping lapangan sebuah program pemberdayaan masyarakat. Kebetulan saya mendapatkan tugas di bagian media. Tugas saya mencari berita, mengolah, dan kemudian mengirimkannya ke redaksi. Wilayah kerja saya Blitar, Kediri, dan Tulungagung.
Saya menjalani hari-hari saya dengan pekerjaan yang cukup lumayan. Entah bagaimana ceritanya, seorang kawan mengajak kuliah di Universitas Islam Malang. Ia bilang bahwa kuliahnya bisa menyesuaikan waktu saya bekerja.

Saya bergetar. Pikiran bimbang. Saya pun mencari-cari informasi terkait Unisma. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, saya memutuskan berangkat kuliah. Ya, saya mendaftar sebagai mahasiswa S-2 Studi Islam.

September tahun 2000 saya mulai kuliah. Menjadi mahasiswa Pascasarjana merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Proses perkuliahan saya jalani sebaik mungkin. Berbagai suka duka saya alami. Meskipun tidak menjadi yang terbaik, saya lulus tepat waktu. Tentu, saya harus berterima kasih kepada Universitas Islam Malang atas ilmu dan segala hal yang telah diberikan. Juga kepada para kiai dan dosen yang telah mengajarkan ilmu dan hikmah selama kuliah di Unisma.

Kini, di ujung Januari 2020, saya kembali ke kampus tempat saya menempuh S-2. Berarti sudah 17 tahun saya tidak masuk ke kampus ini sejak wisuda. Kalau sekadar lewat sering, tetapi memasuki dalamnya nyaris tidak pernah setelah wisuda di akhir tahun 2002. Ada rasa bangga tak terperi. Kampus ini kini tengah berbenah. Bangunannya megah. Jurusannya bertambah. Kemajuannya cukup terasa.

Saya memasuki ruang rektorat. Berbagai foto terpajang di dinding. Mata saya tiba-tiba tertuju kepada sebuah poster. Judulnya “Manusia Buku”. Dia adalah Dr. H. Abdul Wahid, S.H., M.Ag. Berdasarkan informasi dari poster tersebut, beliau merupakan dosen yang paling produktif. Sebanyak 67 judul buku telah beliau tulis. Buku-buku yang ditulis bidang hukum dan agama.

Tentu ini merupakan prestasi yang luar biasa. Sangat jarang ada kampus yang memiliki dosen dengan produktivitas menghasilkan buku seperti beliau.
Ketika saya konfirmasi kepada Mas Abdul Halim Fathani terkait Dr. H. Abdul Wahid, S.H., M.Ag., ternyata beliau kini sakit. Saya belum pernah sekalipun bertemu muka dengan beliau. Informasi bahwa beliau kini sakit membuat saya bersedih. Saya ingat persis di awal tahun 2000-an saat saya kuliah S-2, nama beliau sering saya baca di media massa. Artikel beliau menghiasai berbagai koran. Semoga beliau segera sembuh dan kembali berkarya.

Bersama dengan Dr. Eni Setyowati kami menuju lokasi acara di lantai 7. Luar biasa, Unisma sekarang gedungnya sedemikian mewah. Seingat saya, dulu gedungnya belum semewah ini. Gedung Unisma kini sungguh megah dan berkelas.
Dari lokasi acara saya memandang keluar. Sungguh sebuah pemandangan yang luar biasa indah. Kota Malang dari ketinggian lantai 7 Unisma sungguh mempesona. Memang terlihat padat, tetapi keindahannya tetap tidak hilang.

Saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari acara Kopdar SPK di Unisma kali ini. Jika boleh disebut, saya mereguk ilmu yang sungguh berharga. Tiga narasumber—Prof. Dr. Imam Suprayogo, Prof. Dr. Junaidi Mistar, Ph.D., dan Prof. Dr. Muhammad Chirzin—memberikan suntikan ilmu yang luar biasa. Sungguh saya mendapatkan banyak sekali ilmu, hikmah, spirit, dan pelajaran hidup yang tak terduga.

Prof. Dr. Imam Suprayogo merupakan narasumber pertama yang membuat adrenalin menulis saya mendidih. Bayangkan, bertahun-tahun beliau menulis setiap hari tanpa henti. Ya, tanpa henti. Jumlah tulisannya sampai sekarang sekitar 4.600 judul. Sungguh sebuah jumlah yang sulit mencari pembanding.

Mengapa beliau suka menulis? Ada banyak alasan yang beliau utarakan. Di antaranya adalah karena beliau suka berbagi. Berbagai pengalaman, pemikiran, dan renungan yang beliau lakukan sayang jika hanya menjadi milik sendiri. Ketika ditulis dan diunggah, banyak orang yang bisa membaca dan mengambil manfaat dari tulisan tersebut.

Tulisan itu, tegas Prof. Imam Suprayogo, lahir sebagai aktualisasi proses belajar. Tulisan demi tulisan yang beliau lahirkan merupakan aktualisasi bentuk belajar. Lewat tulisan, beliau merenungkan, menghayati, dan mengembangkan berbagai hal.

Agar kemampuan menulis bisa terus berkembang maka seorang penulis harus terus belajar. Tidak boleh merasa pintar. Secara mengejutkan Prof. Dr. Imam Suprayogo menjelaskan bahwa merasa diri bodoh menjadi salah satu motivasi beliau untuk terus menulis. Pernyataan ini bagi saya cukup mengejutkan. Tokoh besar sekelas beliau saja merasa bodoh, apalagi saya yang bukan siapa-siapa. Menulis, karena itu, merupakan aktivitas yang harus terus saya lakukan agar saya bisa keluar dari kerangkeng kebodohan.
Menulis itu memiliki manfaat yang luar biasa. Paparan Prof. Imam Suprayogo membuat saya melongo. Menurut beliau, tulisan itu memiliki pengaruh yang luar biasa. Aktivitas perjalanan beliau ke berbagai wilayah di Indonesia dan dunia tidak lepas dari aktivitas beliau menulis. Beliau diundang ke berbagai kegiatan karena menulis. Pernyataan ini menjadi pelecut luar biasa bagi saya untuk konsisten menekuni dunia literasi. Saya akan menulis tanpa banyak pertimbangan. Pokoknya berusaha menulis sebaik mungkin yang saya mampu.

Aspek lain yang juga saya cermati adalah pentingnya bergaul sesama penulis. Jika pergaulan kita itu dengan sesama penulis maka pergaulan itu akan memberikan efek kepenulisan juga. Kita menjadi ikut semangat saat berdiskusi, saat karya teman kita terbit, atau saat membaca pengalaman masing-masing penulis. SPK saya kira merupakan komunitas yang memiliki manfaat besar dalam mempertahankan budaya menulis.

Narasumber kedua adalah Wakil Rektor 1 Universitas Islam Malang, Prof. Drs. Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D. Sebagaimana Prof. Imam Suprayogo, Prof. Junaidi juga banyak memberikan ilmunya kepada kami. Mengawali paparannya, beliau bercerita tentang latar belakang beliau. Lahir dari keluarga sederhana, tidak memiliki budaya sekolah, dan segenap aspek yang kurang mendukung dari segi pendidikan. Perjuangan beliau sungguh luar biasa.

Saya tertegun ketika beliau bercerita bahwa saat kuliah S-1 baru berjalan beberapa bulan, beliau memutuskan untuk mundur atau pindah jurusan. Ketika hal itu disampaikan kepada penasehat akademik dan kemudian kepada Ketua Jurusan, niat itu ditolak. Nasihat agar bertahan terus digelorakan. Prof. Junaidi menceritakan bagaimana beratnya beliau meniti jalan awal perkuliahan di jurusan bahasa Inggris. Saya sendiri bisa membayangkan bagaimana seandainya hal itu menimpa saya.

Perjuangan yang berat itu pada akhirnya membawa hasil. Kini beliau memetik buah manis dari perjuangannya yang sangat berat di masa sekolah. Beliau sekarang menjadi guru besar. Karyanya dikutip oleh banyak sekali penulis di berbagai negara. Bahkan tidak sedikit artikel beliau yang dikutip dalam bahasa yang beliau sendiri tidak pahami.
Paparan ini menjelaskan bahwa menulis—khususnya di jurnal ilmiah—memiliki dampak yang sungguh luar biasa. Prof. Junaidi memotivasi kami semua untuk terus menulis.

Dampak menulis tidak selalu sesuai dengan dugaan kita. Apa yang kita tulis sangat mungkin dibaca oleh orang yang sangat banyak dari berbagai belahan dunia. Justru karena itulah ajakan Prof. Junaidi Mistar untuk menulis artikel di berbagai jurnal di dunia menjadi tantangan tersendiri. Tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin. Semuanya mungkin asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Narasumber ketiga adalah Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag. Nama ini tidak asing bagi kami anggota SPK. Beliaulah sesungguhnya penentu arah dan jalannya SPK. Guru besar yang sederhana ini betul-betul ngemong kami sebagai anggota SPK. Spirit literasinya sungguh luar biasa. Ada saja ide, gagasan, dan kreativitas yang dimunculkan berkaitan dengan literasi.

Sebagaimana biasa, paparan beliau berisi pokok-pokok pikiran yang ditulis secara singkat namun padat. Ada begitu banyak hikmah yang beliau tulis. Satu yang saya kira sangat berkesan, yaitu anggota SPK yang ikut Kopdar sampai tiga kali, apalagi sampai empat kali, akan menjadi penulis kiwari. Sebuah kutipan yang sungguh sangat bermakna.

Kopdar ke-IV di Unisma kali ini sungguh mengesankan. Ada banyak pelajaran, kenangan, ingatan, dan inspirasi yang luar biasa. Semoga Unisma semakin maju, SPK semakin jaya, dan literasi semakin bersemai di penjuru negeri.

Trenggalek, 2 Februari 2020

Ngainun Naim, Dosen IAIN Tulungagung. Aktif dalam kegiatan literasi. Beberapa bukunya yang bertema literasi adalah Proses Kreatif Penulisan Akademik (2017), The Power of Writing (2015), dan Spirit Literasi: Membaca, Menulis dan Transformasi Diri (2019). Buku terbarunya Literasi dari Brunei Darussalam (2020).

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here