Menua Bersama Buku

0
313

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis
Ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.”
~ Pramoedya Ananta Toer ~

​Quote yang penulis kutip dari seorang penulis hebat Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, sungguh sangat menggugah, menginspirasi dan menjadi andalan penulis ketika menjawab pertanyaan “Mengapa Anda Menulis?” “Motivasi apa yang menguatkankannya?”

​Sejak usia 53 tahun, penulis sudah menetapkan diri akan mengisi hari-hari kehidupan ini dengan tugas utama yaitu menulis, khususnya menulis buku. Alhamdulillah, hingga hari ini, saat tulisan ini ditulis, aktivitas ini masih terus berlangsung. Penulis Sudah lunayan banyak menghasilkan buku yaitu 11 buku solo dan 105 buku antologi, beberapa artikel terbit di majalah dan media sosial.

​Mengapa harus menulis? Bukankah masih banyak aktivitas lainnya yang tidak kalah menariknya? Benar! Sebagai seorang yang menyukai berbagai aktivitas, penulis termasuk yang suka mencoba hal-hal baru. Penulis suka belajar apa saja selama hal tersebut baik, bermanfaat dan tidak aneh-aneh. Penulis suka belajar secara langsung pada ahlinya maupun secara tidak langsung yaitu dengan memanfaat berbagai sumber belajar, terutama melalui media sosial, seperti pada Instagram (IG), YouTube, Facebook, grup-grup Whatssap maupun dari media lainnya. Dari sumber-sumber belajar inilah penulis bisa mengembangkan ide-ide baru dan membuka wawasan. Menariknya, sumber belajar semacam ini membuat rasa ingin tahu dan ingin mencoba semakin nyata. Sumber belajar tersebut terlalu sayang untuk diabaikan. Bahkan tak jarang penulis rasakan, sumber belajar di dunia maya tersebut terlalu cepat berkembang dan berubah sehingga diperlukan kemampuan beradaptasi yang cepat pula. Lihatlah contohnya kemampuan Artificial Intelligent. Sebuah “penemuan” baru khususnya bagi dunia literasi yang pengaruhnya begitu signifikan. Seorang pembaca maupun penulis, diberi kemudahan dan “jalan pintas” dalam menemukan dan memahami sesuatu, baik hal baru maupun sesuatu hal yang ingin diketahui lebih jauh dalam waktu relatif singkat.

​Dengan bertambahnya usia, penulis menyadari bahwa beberapa kemampuan yang dilakukan tidak semudah ketika waktu muda dulu. Hal ini wajar. Selama tidak menghalangi penulis untuk beraktivitas yang disukai dan berguna, biarlah halangan-halangan tersebut diabaikan atau tidak dipermasalahkan. Yang terpenting, jangan ada kata ‘malas’ untuk melakukan sesuatu yang disukai dan diminati seperti membaca dan menulis ini.

​Sebagai orang yang sudah menjadikan menulis sebagai bagian kegiatan keseharian maka menjadi bagian dari beberapa grup kepenulisan dalam rangka meningkatkan minat, motivasi dan kemampuan menulis adalah sebuah keniscayaan. Saat ini, banyak sekali grup kepenulisan di Whatssap group (WAG) menjadi media bagi penulis untuk berkembang bersama. WAG kepenulisan tersebut antara lain seperti Sahabat Pena Kita (SPK), Rumah Virus Literasi (RVL), Leksikon GIM, Gen-M, Kelas Cerpen, dan lain-lain. Belum lagi partisipasi penulis pada beberapa grup insidental dalam Nulis bareng (nubar) yang bekerja sama dengan penulis senior dan penerbit. Proyek seperti ini langsung menghasilkan karya nyata berupa buku antologi. Di sinilah rasa cinta dan gairah menulis tertantang dan kita bisa melakukan eksplorasi dengan tema-tema yang diminati, baik berupa karya fiksi dengan genre cerpen, novel, penulisan skenario; maupun karya nonfiksi lainnya seperti travel note, kisah nyata, memoar, hikmah dan kisah inspiratif lainnya.

​Ternyata, begitu banyak ide yang bisa digarap tiada habisnya. Semua kembali kepada pilihan, minat dan kemampuan serta kemauan masing-masing penulis. Ketika penulis mengalami kebuntuan (writer’s block) ini memberi sinyal bahwa, boleh jadi, penulis sedang mengalami kelelahan, kejenuhan, atau gangguan tertentu, seperti sakit, yang memerlukan waktu tenang dan istirahat untuk pemulihan. Jangan melawan kondisi ini. Ibarat orang mengantuk tiada lain obatnya tidur. Setiap penulis sebaiknya mengenali kondisi dirinya, mengerti titik kekuatan dan kelemahannya sehingga ia mampu mengeksekusi keputusannya.

​Bagi penulis sendiri, ada kalanya kondisi tersebut pun terjadi. Misalnya, ada tuntutan harus menyelesaikan sebuah naskah artikel atau buku dalam waktu tertentu. Untuk menyelesaikan tanggung jawab tersebut maka penulis mencoba terlebih dahulu membuat peta pemikiran dengan cara merenung sejenak hendak bagaimana naskah tersebut akan dibawa. Dari sana terbayang urutan kerja yang dilanjutkan dengan sebuah skema perencanaan. Jika bentuknya berupa sebuah naskah buku maka penulis membuat kerangka tulisan (outline) terlebih dahulu. Tentu saja hal ini sangat memudahkan langkah-langkah penulisan. Terus terang saja, sejauh ini, kemudahan penulis dalam menulis naskah dengan tema-tema yang telah ditentukan pihak yang bersangkutan, misalnya dalam proyek nubar (antologi) yakni dengan melihat sisi lain dari sudut kemampuan penulis dalam menyusunnya. Sebab menulis itu harus sesuai dengan kebisaan yang kita kuasai. Kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang kita kuasai dan sukai. Jangan memaksakan diri dengan sesuatu yang tidak kita sukai dan kuasai karena ingin terlihat “cerdas”. Hasilnya justru akan mengecewakan bahkan terbengkalai. Dengan pendekatan seperti ini, niscaya kita bisa menulis apa saja sesuai dengan sudut pandang penulis.

​Sebagai seorang penulis yang sudah masuk kategori lansia (64 tahun), penulis tetap konsisten dan berkomitmen untuk terus menulis. Tetap aktif terlibat dalam aktivitas literasi sebab inilah rasanya pilihan terbaik yang penulis minati. Penulis sebelumnya punya aktivitas dan ketertarikan dalam dunia jahit menjahit (sewing), melukis (painting), memasak (cooking), membuat roti dan kue (baking). Kegiatan tersebut menjadi selingan pengganti suasana di tengah rutinitas menulis. Namun menulis buku sudah menjadi rencana jangka panjang penulis sampai ada yang mengingatkan bahwa tulisan penulis sudah mulai ngawur dan tidak konsisten akibat rusaknya kemampuan konsentrasi maupun gangguan lainnya. Tak jarang penulis merenung dan menghitung waktu ke depan. Akankah penulis masih mampu menulis hingga dua puluh tahun ke depan? Wallahua’lam. Meskipun demikian, penulis masih bersemangat karena sering menemukan bukti atau berjumpa dengan perempuan-perempuan tua yang terus mengisi hari-harinya dengan tetap menulis sekalipun mereka bukan penulis terkenal. Ini sudah cukup menjadi contoh dan motivasi bagi penulis.

​Sekalipun penulis hanyalah seorang perempuan biasa, dengan niat ingin terus berkarya produktif, maka penulis berniat agar ikhtiar tersebut dinilai sebagai amal bakti penulis menjalankan perintah Allah SWT. Kelak menjadikan karya tulis tersebut sebagai bagian dari peradaban dan sejarah kehidupan, setidaknya sejarah kehidupan penulis sendiri yang berguna bagi anak keturunan.

​Sayyid Qutuhb (1906-1966) pernah bilang bahwa satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tetapi satu tulisan mampu menembus ribuan, bahkan jutaan kepala. Sebab itulah mukjizat agung yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, bukan kedigdayaan fisik dan kesaktian materi, melainkan Al-Qur’an. Wallahua’lam.
​***

Bionarasi
Dra.Rita Audriyanti, M.Pd. Ibu rumah tangga, 64 tahun, pemelajar yang senang mencoba hal-hal baru. Pada usia 53 ia mulai serius menekuni dunia tulis menulis. Sampai saat ini, ia telah menghasilkan 11 buku solo dan 105 antologi dari berbagai genre yang diterbitkan, baik di penerbit mayor maupun indie serta di beberapa media. Ia berharap dapat menghabiskan masa menua dengan terus menulis. Ia dapat dilihat di IG @literatus.rita dan Facebook Rita Audriyanti.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here