MENULIS, ANTARA PASSION DAN KEBAHAGIAAN DIRI

0
1671

Oleh :

Agung Nugroho Catur Saputro

 

Hari Sabtu, 6 Februari 2021 adalah hari yang membahagiakan saya dan juga membanggakan. Mengapa? Karena di hari tersebut tiga buku solo karya saya akan dilaunching di  acara seminar literasi dan Kopdar 6 Sahabat Pena Kita (SPK). Siapa yang tidak bahagia ketika karya tulisnya dilaunching di acara webinar literasi yang dihadiri ratusan orang? Siapa yang tidak bangga ketika karya tulisnya ditampilkan dalam video yang dilihat oleh ratusan orang dalam moment webinar literasi? Saya rasa semua orang pasti bangga dan bahagia ketika hasil karyanya diapresiasi dan diumumkan ke kalayak ramai.

Bisa menghasilkan karya tulis yang diapresiasi orang lain merupakan anugerah dan nikmat yang luar biasa. Menulis buku bukanlah suatu pekerjaan yang ringan. Saya tidak mengatakan mudah, mengapa? Karena banyak juga penulis-penulis professional yang mengganggap menulis buku itu tidak mudah, terutama untuk menghasilkan buku-buku yang berkualitas. Saya lebih suka memilih menggunakan kata “tidak ringan” karena memang untuk bisa menghasilkan tulisan dalam bentuk satu buku memerlukan kerja keras dan usaha yang tidak ringan. Perlu keseriusan dan kedisiplinan untuk mampu menyelesaikan penulisan buku. Perlu komitmen yang tinggi dan dilandasi rasa suka, senang, dan bahagia ketika menulisnya karena jika ada rasa terpaksa sedikit saja maka pasti bukunya tidak selesai-selesai.

Menulis itu harus dilandasi perasaan bahagia, tidak boleh karena terpaksa atau memaksakan diri. Mengapa? Karena menulis itu sebenarnya adalah proses menemukan diri sendiri. Demikianlah yang disampaikan oleh gus Ulil atau Ulil Abshar Abdalla, MA (Cendekiawan muslim yang produktif menulis) di webinar literasi SPK tanggal 6 Februari 2021. Setiap orang pasti menginginkan tahu tentang dirinya secara utuh, apa saja potensi dan passionnya dan seberapa besar kemampuannya untuk mewujudkan atau merealisasikan potensi, bakat dan minat dalam dirinya. Di sinilah pentingnya rasa senang dan bahagia dalam proses pencarian jati diri melalui aktivitas menulis. Menulis bukan sekadar menuangkan ide, gagasan, dan pemikiran ke dalam bentuk tulisan, tetapi menulis itu lebih merupakan wujud aktualisasi dan mengekspresikan diri dari seseorang. Sebuah tulisan –walaupun sederhana- berpotensi mampu membangkitkan semangat dan bakat terpendam pembacanya. Sebuah tulisan mampu memiliki energi yang luar biasa yang dapat mendorong ribuan orang untuk mengikuti ide gagasan yang terkandung dalam tulisan tersebut.

Kita ingat bagaimana awal mula berdirinya negara Israel. Jika Benyamin Ze-ev alias Theodore  Herzl  pada tahun 1894 tidak menulis dan menerbitkan buku tipis berjudul DER JUDENSTAAT (The Jewish State), mungkin negara Zionis Israel Raya tidak akan pernah ada. Dengan buku Der Judenstaat dan karya fiksinya berjudul Altneuland (Old New Land),  Herzl telah menginspirasi banyak orang Yahudi bergerak mendirikan negara Israel apapun taruhannya, meskipun harus dengan merampas hak-hak orang Palestina [1]. Inilah kekuatan energi yang terkandung dalam sebuah buku. Imaginasi penulis buku tersebut akhirnya ditangkap dan diwujudkan orang-orang Yahudi di seluruh penjuru dunia hingga saat ini kita dapat menyaksikan berdirinya negara Israel di kawasan Timur Tengah. Terlepas dari pro dan kontra tentang berdirinya negara Israel, tetapi penulis fokus pada kejadian asal mula munculnya gerakan mendirikan negara Isarel yang bermula hanya dari ide di sebuah buku tipis.

Dulu, bagi saya menulis buku itu sesuatu yang sangat berat dan mustahil bisa saya lakukan. Membayangkan menulis ratusan halaman itu pikiran saya sudah tidak sampai. Menulis beberapa halaman saja sudah terasa sangat berat, apalagi menulis sampai ratusan halaman. Tetapi walau begitu, cita-cita dan keinginan untuk suatu saat dapat menulis buku itu terus membayangi pikiran saya. Saya terus berusaha belajar menulis dan mengikuti event-event lomba penulisan. Memang awalnya saya lebih banyak menulis untuk lomba-lomba karya tulis ilmiah (tema akademik), tetapi minat saya pada tulisan-tulisan tema umum (tulisan populer) juga besar, sehingga akhirnya saya mulai juga belajar menulis tema-tema umum. Dari beberapa kali menulis tema-tema umum inilah di kemudian hari saya bisa menulis bukan hanya buku akademik tetapi juga buku genre lain.

Hingga tulisan ini dibuat, saya telah menulis lebih dari 36 judul buku, baik berupa buku solo maupun buku antologi dan kolaborasi. Saya mulai menulis buku tahun 2005 tetapi mulai intens dan serius menekuni aktivitas menulis buku mulai tahun 2018. Selama kurun waktu tahun 2005 -2017 saya hanya mampu menerbitkan 7 judul buku, tetapi sejak tahun 2018 hingga saat ini saya mampu menerbitkan buku rata-rata lebih dari 5 judul buku setiap tahunnya. Terakhir tahun 2020 kemarin saya mampu menerbitkan 4 judul buku mandiri (3 judul buku solo dan 1 judul buku tim penulis) dan 11 judul buku antologi maupun kolaborasi sehingga total sebanyak 15 judul buku. Ke-15 judul buku yang saya terbitkan tersebut tidak hanya tentang satu tema saja tetapi berbagai tema, mulai dari tema pendidikan, sistem manajemen mutu, nilai-nilai kehidupan, hingga tema keagamaan. Saya memang suka menulis berbagai tema karena dengan begitu saya akan banyak berpikir tentang berbagai hal sehingga pikiran saya selalu aktif, kreatif, dan segar dalam menemukan ide-ide.

Prinsip saya dalam menulis adalah menulis dan berkarya sebanyak-banyaknya semampu  yang dapat saya lakukan. Mumpung masih punya waktu saya pergunakan untuk menghasilkan karya tulis sebanyak-banyaknya. Entah karya tulis saya diniai bagus atau tidak, saya tidak terlalu memperdulikannya. Apakah buku-buku yang saya tulis itu akan diminati orang atau tidak juga tidak saya pedulikan. Keyakinan saya adalah bahwa setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri dengan jalan yang tidak bisa diperkirakan. Karena tulisan yang saya hasilkan merupakan representasi dari ilmu pengetahuan yang saya miliki, maka menulis dan menerbitkannya dalam bentuk buku merupakan bagian dari ikhtiar saya untuk mengabadikan buah pemikiran dan ide gagasan saya dan membagikannya kepada kalayak umum. Karena buku adalah representasi dari ilmu pengetahuan dan Allah Swt. menyukai orang-orang yang berilmu, maka saya percaya bahwa Allah Swt. akan membantu mempertemukan ilmu dalam buku-buku saya tersebut dengan para pencari ilmu (pembaca) melalui sekenario-Nya. InsyaAllah. []

 

Gumpang Baru, 15 Februari 2021

 

Referensi

[1]  Habiburrahman El Shirazy. (2020). Menulis itu wajib. Materi webinar literasi “Literasi untuk Mengabdi dan Mengabadi”, diselenggarakan oleh komunitas literasi Sahabat Pena Kita (SPK) bekerjasama dengan IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 11 Juli 2020.

 

____________________________________

BIODATA

 

Agung Nugroho Catur Saputro, S.Pd., M.Sc., ICT adalah dosen di Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Pendidikan sarjana (S.Pd) ditempuh di Universitas Sebelas Maret dan pendidikan pascasarjana Master (M. Sc.) ditempuh di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Mulai tahun 2018 penulis tercatat sebagai mahapeserta didik doktoral di Program Studi S3 Pendidikan Kimia PPs Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Selain aktif sebagai dosen, beliau juga seorang pegiat literasi dan penulis yang telah menerbitkan lebih dari 36 judul buku (baik buku solo maupun antologi), Peraih Juara 1 Nasional bidang kimia pada lomba penulisan buku pelajaran MIPA di Kementerian Agama RI (2007), Penulis buku non fiksi yang telah tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Konsultan penerbitan buku pelajaran Kimia dan IPA, dan Reviewer jurnal ilmiah terakreditasi SINTA 2 di Universitas Diponegoro Semarang (UNDIP), serta Trainer MindMap Certified ThinkBuzan iMindMap Leader (UK) dan Indomindmap Certified Trainer-ICT (Indonesia). Penulis dapat dihubungi melalui nomor WhatsApp +6281329023054 dan email : anc_saputro@yahoo.co.id. Tulisan-artikel penulis dapat dibaca di akun Facebook : Agung Nugroho Catur Saputro, website : https://sahabatpenakita.id dan blog : https://sharing-literasi.blogspot.com

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here