Membaca dan Belanja Ide

18
1076

Ngainun Naim

Belanja lazimnya berkaitan dengan barang dan jasa. Ternyata belanja itu tidak hanya berkaitan dengan barang dan jasa. Menulis juga perlu belanja. Mungkin Anda heran dan bertanya-tanya. Bagaimana caranya berbelanja dalam kaitannya dengan menulis?

William Zinsser dalam buku On Writing Well (2004) menyatakan bahwa menulis itu merupakan keterampilan yang bersandar pada kemauan yang keras. Bukan sebatas keterampilan yang bisa dilakukan sesukanya dan sesempatnya. Kemauan yang keras itu diwujudkan, antara lain, dalam bentuk mendisiplinkan diri untuk terus menulis setiap hari. Inilah jalan utama untuk menjadi penulis professional.

Penulis profesional selalu berusaha menulis setiap hari secara rutin. Meskipun sibuk atau banyak hal yang menjadi hambatan, ia akan selalu berusaha keras untuk menyempatkan diri menulis. Menulis adalah bagian tidak terpisah dari aktivitas hidup sehari-hari.

Menulis setiap hari itu tidak mudah. Tidak setiap orang mampu melakukannya. Hanya mereka yang mampu memaksa dirinya saja yang sanggup konsisten menulis.

Keterampilan menulis tidak bisa muncul begitu saja. Ia perlu dilatih. Awalnya bahkan harus dipaksa. Ketika sering melakukannya, paksaan itu akan berubah menjadi kebiasaan.

Saya beberapa kali menyatakan bahwa jika ingin menjadi penulis yang profesional maka harus menulis setiap hari. Bukan soal mendapatkan berapa kata, berapa paragraf, atau berapa halaman melainkan pada konsistensi untuk menulis itu sendiri. Jadi merawat semangat untuk terus menulis itu memang sangat penting dan menentukan sukses dalam menekuni dunia menulis.

Kita bisa belajar kepada para penulis besar dari genre apa pun. Salah satunya adalah belajar kepada novelis Stephen King, penulis spesialis horor dari Amerika Serikat. Ada satu quote dari novelis besar ini yang penting menjadi bahan renungan kita semua. Ia menyatakan bahwa, “Sometimes you have to go on when you don’t feel like it, and sometimes you’re doing good work when it feels like all you’re managing is to shovel shit from a sitting position” (Arshani, 2018). Sekalipun sedang dilanda rasa bosan dan mulai jenuh, menulis tetap harus dilakukan. Awalnya memang berat, namun jika dilakukan secara konsisten, pada akhirnya akan membangkitkan rasa suka.

Persoalan yang cukup sering diajukan ke saya adalah jika setiap hari menulis, apa yang akan ditulis? Jangankan untuk menulis setiap hari, menulis seminggu sekali pun acapkali kehabisan bahan untuk ditulis. Saat menulis, tidak ada apa pun di otak yang bisa ditransfer menjadi tulisan.

Pertanyaan semacam itu wajar dan saya kira semua orang mengalaminya. Menulis memang tidak selalu mudah. Bahkan kadang sulit atau sangat sulit. Meskipun demikian ada hal yang harus dilakukan agar kesulitan dalam menulis itu bisa terkurangi, yaitu dengan membaca. Ya, membaca, membaca, dan terus membaca. Inilah yang saya maksudkan dengan modal dalam menulis.

Membaca seperti menabung sebagai modal untuk menulis. Memang banyak membaca tidak menjamin mudah dalam menulis. Penting dipahami bahwa membaca adalah modal. Bagaimana jika modal saja tidak dimiliki? Tentu sulit untuk menghasilkan tulisan, apalagi tulisan yang berkualitas. Jadi membaca adalah modal untuk belanja ide.

Belanja dalam dunia menulis bukan hanya berkaitan dengan aspek teknis-material pendukung menulis saja, seperti laptop atau sarana pendukung lain. Ide juga harus belanja. Belanja ide membuat seorang penulis selalu memiliki bahan untuk ditulis. Tanpa ide, tidak ada yang bisa ditulis.

Banyak orang yang produktif menulis. Karya demi karyanya terus bermunculan seolah tanpa jeda. Orang-orang pun mengaguminya. Namun fokusnya biasanya pada hasil. Padahal, produktivitas itu tidak bisa dipisahkan dari proses yang tidak sederhana dan tidak ringan.

Aspek yang pasti dilakukan oleh seorang penulis produktif adalah membaca secara intensif (Jatnika, 2019). Banyaknya asupan bacaan akan bermetamorfosis menjadi sumber tulisan yang kaya.

Membaca, dengan demikian, merupakan kunci dalam menulis. Kunci itu, sebagaimana kunci pintu, berfungsi untuk membuka. Begitu terbuka, kita bisa masuk ruangan.

Demikian juga yang saya pahami dengan membaca dalam kaitannya dengan menulis. Tanpa membaca, kita tidak akan bisa masuk dunia menulis. Membaca yang memberikan kesempatan bagi kita untuk bisa menulis.

Membaca dalam konteks tulisan ini adalah membaca sumber bacaan standar seperti buku atau artikel jurnal, bukan sekadar status di media sosial. Memang ada juga status di media sosial yang memiliki nilai inspirasi tinggi dan memperkaya khazanah intelektual kita, namun jumlahnya tidak banyak. Justru karena kondisi semacam ini maka seorang penulis harus selektif dalam memilih asupan bacaan.

Membaca memang tidak mudah. Membaca, terutama di era sekarang, harus dilakukan dengan penuh perjuangan. Terlalu banyak godaan untuk tidak membaca.

Media sosial menjadi penyedot waktu yang paling kuat (Neidi, 2019). Jika sudah mengakses media sosial, aktivitas lainnya bisa kalah. Membaca buku tentu kalah daya tariknya. Wajar jika semakin hari jumlah pembaca buku cetak semakin menurun.

Salah satu indikasinya adalah bergugurannya satu demi satu toko buku. Di beberapa kota di Jawa, Toko Buku Toga Mas sudah tutup. Toko Buku Gunung Agung yang legendaris dengan jaringan merata seluruh Indonesia juga sudah mengumumkan tutup di akhir tahun 2023. Toko buku di beberapa kota, jika belum tutup, sebagian besar nasibnya memprihatinkan. Pengunjungnya semakin berkurang dari hari ke hari.

Namun sesungguhnya ini bukan alasan pembenar untuk tidak membaca. Bahan bacaan digital melimpah ruah. Sepanjang mau kreatif, bahan bacaan tersedia dan bisa didapatkan. Di titik inilah diperlukan perjuangan untuk memanfaatkan segenap potensi untuk membaca.

Kesadaran untuk terus membaca penting dibangun. Inilah cara yang paling efektif untuk menambang ide.

Tulungagung, 24 Agustus 2023

 

Bahan Bacaan

Arshani, Febby (2018). 10 Quotes Stephen King untuk Kamu Calon Penulis Hebat. https://www.idntimes.com/life/inspiration/febby-arshani/quotes-stephen-king-c1c2?page=all.

Jatnika, S. A. (2019). Budaya Literasi untuk Menumbuhkan Minat Membaca dan Menulis. Indonesian Journal of Primary Education, 3 (2), 1-6.

Neidi, Arrazzaqu Widya. (2019). Hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dan prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa. Acta Psychologia 1.2 (2019): 97-105.

Zinsser, William. (2004). On Writing Well, New York: HarperResource quill.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here