RAMADHAN DI KAMPUNG BERSAMA KELUARGA

0
113

Oleh: Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag.

Ramadhan akan datang lagi. Marhaban ya Ramadhan! Umat Islam menyambutnya dengan wajah-wajah ceria dan gembira. Memancarkan rona keimanan penuh pengharapan akan berkah-Nya. Tuhan pun menyapa penuh kelembutan, “Wahai orang yang beriman, berpuasa diwajibkan atas kamu, supaya kamu bertakwa.” (QS 2:183).

Puasa itu hanya sebagian kecil dari waktu yang demikian panjang dalam setahun. Masa berbuka pun lebih panjang ketimbang waktu puasa, dan waktu makan-minum lebih banyak tinimbang waktu menahan diri. Puasa mengantarkan kepada ketaatan dalam melaksanakan perintah, mematahkan nafsu amarah, belajar bersabar, menjauhi larangan, dan memerangi setan.  

Berpuasa bukanlah hal yang baru. Para rasul beserta umatnya berpuasa. Nabi Zakaria berpuasa ketika hendak dikaruniai putra. Maryam berpuasa ketika menerima tanda-tanda kehamilan dari Tuhan tanpa proses biologis hubungan intim suami-istri. Ulat pun berpuasa untuk transmutasi menjadi kupu-kupu cantik. Ular juga berpuasa untuk salin jisim yang baru. Induk ayam berpuasa pula saat mengeram telur untuk menetaskannya. 

 Puasa bulan Ramadhan menghimpun bekal untuk mengarungi kehidupan dalam 11 bulan berikutnya. Puasa melatih sederhana dalam makan dan minum, memelihara lisan dari ucapan keji, kata-kata bodoh, dusta, dan keributan, menjaga mata dari pandangan yang menimbulkan birahi, menahan hidung dari aroma yang menggoda, menjaga pendengaran dari suara tercela, serta menjaga tangan dan kaki dari perbuatan tak terpuji.

Puasa pendidikan ketahanan, keutamaan, dan kesempurnaanm melatih giat beribadah, ikhlas, tobat, muraqabatullah, khauf, raja`, dan ridha dengan melakukan qiyamullail, i’tikaf, shadaqah, dan amalan terpuji lainnya.

Inti puasa adalah tazkiyatun nafsi, membersihkan jiwa dari segala kotoran rohani dan menjernihkan kalbu dari segala kekeruhan, serta menyiapkan diri menuju kesempurnaan insani. Pengaruh puasa sesuai kadar kejujuran seseorang dalam menghadap Allah swt dan ketulusan hati menyatukan pikiran dan menghayati interaksi dengan-Nya. Jangan kita berpuasa cuma mendapat lapar dan haus semata.

Puasa mempunyai arti penting dari segi rohani. Tanpa itu maka puasa seperti tempurung kelapa kosong tanpa isi. Kalau orang dapat memahami ini, ia akan melihat Ramadhan bukan sebagai beban, melainkan sebagai suatu rahmat.

Allah begitu dekat kepada orang beriman, lebih-lebih di bulan Ramadhan. Dia mengabulkan permohonan setiap orang yang berdoa bila ia berdoa kepada-Nya. Maka hendaklah kita juga menjalankan perintah-Nya dan beriman kepada-Nya, supaya kita berada dalam jalan yang benar.

Beriktikaf di masjid malam hari sangat dianjurkan menjelang akhir Ramadhan. Dengan demikian segala godaan dunia dapat dihindari. Tujuan puasa tidak lengkap sebelum sifat keserakahan dalam masyarakat terhadap makan, minum, seks dan harta kekayaan ditahan.

Seseorang pernah bertanya kepada syaikh Muhammad Mukhtar As-Sayinqiti tentang amalan apa untuk menyongsong datangnya Ramadhan. Beliau menjawab, “Sebaik-baik amalan yang dapat dilakukan dalam menyongsong datangnya musim ketaatan ialah memperbanyak istighfar. Sebab, dosa akan menghalangi seseorang dari taufiq Allah swt untuk melaksanakan ketaatan.”

Ibnu Katsir berkata, “Siapa yang menghiasi dirinya dengan banyak istighfar, Allah swt akan mempermudah rezekinya, memudahkan urusannya, dan menjaga kekuatan jwa dan raganya. Maka, apalagi yang kau tunggu?”

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Bila engkau ingin berdoa, sementara waktu begitu sempit, padahal di dadamu begitu banyak kebutuhan, maka jadikanlah seluruh isi doamu permohonan maaf dan ampunan kepada Allah swt. Karena, bila Dia memaafkanmu, semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya.”

Bulan Ramadhan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh umat Islam, tidak terkecuali oleh keluargaku dan warga kampungku Warungboto Umbulharjo Yogyakarta. Inilah Ramadhan di dunia Islam tahun 1445 H. Setiap muslim pasti bergetar hatinya menyongsong datangnya bulan penuh rahmat ini. Ada sebersit kecemasan, jangan-jangan usia tidak dipanjangkan hingga bulan suci menghampiri dan menyapa penduduk bumi.

Takmir Masjid pun musyawarah untuk membentuk Panitia Bulan Ramadhan dan membagi tugas agar kegiatan di bulan suci dapat terselenggara dengan saksama dan sebaik-baiknya. Langkah pertama menginventarisasi rencana kegiatan, demi menggapai berkah Allah swt, termasuk menyelenggarakan pengajian menyongsong Ramadhan untuk menyegarkan memori, pemahaman, dan penghayatan, serta pengamalan ibadah puasa dan segala rangkaiannya.

 Berdasarkan hasil evaluasi pengalaman terdahulu, Takmir Masjid berencana menggabungkan semua jamaah tarawih, baik dewasa, remaja, maupun anak-anak, supaya anak-anak dapat belajar menunaikan shalat tarawih secara tertib. Takmir mengagendakan takjilan secara bersama-sama pula. Langkah selanjutnya Takmir hunting para penceramah dan membuat banner, agar semua jamaah dapat mengetahuinya.

Santapan rohani kuliah subuh tujuh menit rencana diisi oleh warga masyarakat setempat, yakni intern jamaah masjid, dengan tujuan untuk menggali potensi dan kaderisasi mubaligh. Pada tahun terdahulu salah seorang anak kami, Muhammad Muthahhari, bertindak sebagai pembawa acara, sedangkan pada tahun yang lalu mendapat kesempatan mengisi kultum dengan menyajikan hasil penelitian seorang Guru Besar di AS tentang dampak positif pengendalian diri sejak usia dini.  

Jama’ah tarawih di masjid pada malam-malam pertamanya biasanya cukup banyak. Dan pada malam-malam berikutnya sedikit demi sedikit berkurang. Pemandangan demikian  ditemukan secara merata di sejumlah masjid, baik di kota maupun di desa.

Setiap Ramadhan kampung kami menyelenggarakan Pasar Murah Ramadhan untuk warga RW dengan harga yang terjangkau warga masyarakat pada umumnya. Suasana Pasar Ramadhan cukup meriah dan menjadi ajang mempererat ukhuwah dan silaturahmi antarwarga. Anak-anak kami riang gembira menghampiri meja-meja penjaja dagangan yang beraneka ragam, utamanya hidangan untuk berbuka puasa.

Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan Takmir menyelenggarakan dua shift shalat tarawih, khususnya pada malam-malam gasal, yakni bakda isya dan akhir malam pukul 02.00-03.00, sekaligus i’tikaf untuk menggapai berkah Lailatul Qadar. Pada H-3 Idul Fitri Takmir mengumumkan besaran uang untuk zakat fitrah tahun ini per orang untuk diwujudkan beras dan didistribusikan kepada warga yang membutuhkan, dan sebagiannya disalurkan ke luar kampung.

Akhir Ramadhan ditandai dengan pawai anak-anak takbir keliling di malam Idul Fitri. Terdengar alunan takbir bersahut-sahutan dari beberapa masjid yang lokasinya relatif berdekatan. Disayangkan ada Masjid yang mengumandangkan takbir sepanjang malam dengan pengeras suara ke luar masjid. Hal itu mengganggu istirahat malam warga di sekitarnya. Mudah-mudahan tahun ini dapat dihindari, sehingga Idul Fitri dapat dijalani dengan berseri-seri. Allahu akbar Allahu akbar wa lillahlil hamdu.[]

 

*Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here