MENGEMBANGKAN KARAKTER ILMIAH-RELIGIUS DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

0
273

Oleh: Agung Nugroho Catur Saputro*

Pendahuluan

Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang kurang diminati oleh siswa-siswi SMA/MA. Hal itu dikarenakan mata pelajaran kimia dianggap mempelajari konsep-konsep yang terlalu abstrak dan kompleks. Dalam mata pelajaran kimia, siswa dituntut untuk mampu memahami banyak konsep dan banyak simbol atom. Ketidakmampuan siswa dalam menghubungkan antarkonsep kimia akan berdampak pada kesulitan memahami kimia.

Konsep-konsep kimia yang banyak tersebut harus dipelajari semua oleh siswa dan siswa juga harus mampu menghubungkan keterkaitan antarkonsep. Kimia harus dipahami secara komprehensif, terpadu dan bermakna. Konsep-konsep kimia seyogyanya tidak diajarkan secara terpisah-pisah karena akan menimbulkan kesulitan tersendiri bagi siswa dalam memahaminya.

Konsep kimia yang banyak tersebut harus dibelajarkan kepada siswa secara runtut dan sistematis dengan memperhatikan hierarkis dan keterkaitan antar konsep. Suatu proses pembelajaran akan bermakna jika siswa mampu mengkaitkan hubungan antar konsep sehingga siswa memiliki pemahaman yang komprehensif. Dengan mengkaitkan antar konsep yang saling berhubungan, maka siswa akan memperoleh pemahaman yang bermakna. Jika konsep-konsep kimia dibelajarkan secara terpisah-terpisah tanpa memperhatikan keterkaitan antar konsep dan hierarkis konsep, maka siswa akan memiliki pemahaman konsep yang parsial.

 

Konsep Dasar Pengembangan Karakter Ilmiah-Religius dalam Pembelajaran Kimia

Alam semesta ciptaan Allah Swt ini penuh dengan misteri dan pelajaran (hikmah, ibrah). Setiap sifat dan perilaku (perubahan) materi mengikuti hukum Allah Swt yang ditetapkan berlaku untuk materi. Hukum alam (sunatullah) yang ditetapkan Allah Swt berlaku umum untuk semua makhluk ciptaan-Nya. Allah Swt menciptakan hukum-hukum alam untuk mengajarkan umat manusia tentang ilmu alam (sains) dan ilmu ketauhidan. Hukum-hukum alam yang diketahui manusia melalui proses berpikir, merenung, menalar, melogika, eksperimen, menganalisis, mensintesis dan menyimpulkan seharusnya mampu mengarahkan manusia kepada keberadaan sang khalik.

Proses mengeksplorasi dan mengenali hukum-hukum alam seharusnya dilakukan selain menggunakan pendekatan inderawi (menggunakan panca indra) atas fenomena fisik juga menggunakan pendekatan secara spiritual untuk mengungkap nilai-nilai kebaikan di balik fenomena fisika. Secara fisika (substansi zat), setiap terjadi perubahan pada suatu materi akan berkaitan dengan materi lain sehingga terbentuk pola saling mempengaruhi dan pola sebab akibat. Di balik setiap perubahan materi terkandung pesan-pesan ilahi yang tidak tampak mata. Pesan-pesan sang pencipta yang terkandung dalam setiap proses alam (perubahan materi) hanya akan dikenali dan ditemui oleh orang-orang yang memiliki kepekaan mata hati dan kejernihan pikiran.

Sebagai contoh misalnya reaksi oksidasi pada peristiwa pembakaran. Pembakaran kayu melibatkan reaksi oksidasi terhadap bahan organik menghasilkan gas karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Gas CO2 bersifat racun bagi pernafasan manusia karena tidak dibutuhkan oleh sistem pernafasan. Jadi jika setiap hari terjadi pembakaran bahan-bahan organik sehingga dihasilkan banyak gas CO2, maka pastilah membahayakan kehidupan manusia. Dari peristiwa pembakaran yang menghasilkan gas karbondioksida (CO2) dan bahkan mungkin jika proses reaksinya kekurangan gas oksigen (O2) akan dapat menghasilkan gas kabonmonoksida (CO) yang bersifat sangat beracun bagi tubuh kita, maka muncul pertanyaan yang menggelitik. Mengapa Allah Swt menciptakan hukum alam yang memungkinkan terjadinya reaksi oksidasi pada proses pembakaran yang menghasilkan gas-gas yang membahayakan kehidupan manusia?

 

Keyakinan Spiritual yang Harus Dimiliki Setiap Pendidik

Sebelum memikirkan hamparan alam semesta ciptaan Allah Swt ini, sangat penting bagi kita untuk terlebih dahulu memagari diri kita dengan sebuah keyakinan bahwa tidak ada satupun ciptaan Allah Swt di dunia ini yang sia-sia, semua pasti bertujuan untuk kebaikan manusia. Allah Swt tidak mungkin bertujuan buruk bagi manusia karena Allah Swt sangat menyanyangi dan mengasihi manusia. Allah Swt adalah al-rahmaan dan al-rahiim, Tuhan yang Mahapengasih dan Mahapenyayang.

Dengan landasan berpikiran positif atas semua ciptaan Allah Swt, maka akan muncul pemikiran lain yaitu bahwa Allah Swt pasti memiliki maksud dan tujuan lain (pasti kebaikan) dari penciptaan reaksi oksidasi tersebut? Pasti ada sisi manfaat dari penciptaan reaksi oksidasi yang sepintas tampak merugikan manusia.

Kalau kita perhatikan lebih seksama, ternyata keberadaan reaksi oksidasi tersebut banyak manfaatnya. Dengan adanya reaksi oksidasi (pembakaran), kita bisa memasak makanan yang hieginis. Dengan adanya reaksi oksidasi (pembakaran) kita bisa menghangatkan badan ketika cuaca sangat dingin karena hasil lain reaksi oksidasi pada pembakaran adalah menghasilkan energi panas (kalor). Dengan pemahaman reaksi oksidasi dan reduksi, manusia mampu mengembangkan teknologi metalurgi. Dengan adanya reaksi oksidasi pada perkaratan logam, manusia bisa mengembangkan teknologi elektrokimia. Dan manfaat-manfaat lain yang masih banyak.

Selain banyaknya manfaat dari dampak penciptaan reaksi oksidasi, ternyata Allah Swt juga mengajarkan kita tentang konsep keseimbangan dalam kehidupan ini. Reaksi oksidasi pada proses pembakaran yang menghasilkan gas CO2 yang membahayakan pernafasan manusia, ternyata dinetralisir oleh tumbuhan karena justru tumbuh-tumbuhan memerlukan gas CO2 untuk menyelenggarakan proses fotosintesis. Hasil proses fotosintesis pada tumbuh-tumbuhan adalah glukosa dan gas oksigen. Glukosa adalah zat kimia yang sangat kita butuhkan dalam wujud karbohidrat. Sedangkan gas oksigen (O2) adalah senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan manusia karena kita bernafas menghirup gas oksigen dan mengeluarkan gas karbondioksida.

 

Belajar Ketauhidan dari Siklus Hidup Manusia

Mari kita perhatikan siklus keseimbangan kehidupan manusia yang disetting Allah Swt tersebut. Apakah ada yang cacat dalam sistem keseimbangan alam yang mahasempurna tersebut? Pikiran yang sehat pasti menyimpulkan bahwa hanya Allah Swt lah yang mampu mengatur sistem yang sangat sempurna tersebut. Manusia dengan segala keterbatasannya ini tidak mungkin mampu mendesain sebuah sistem kehidupan yang sangat kompleks dan rumit tetapi sistematis dan terstruktur, yang mana semua bagian-bagian sistem tersebut berproses sesuai tugasnya masing-masing sehingga mewujud menjadi sistem keseimbangan kehidupan yang dinamis.

Perhatikan lagi sistem keseimbangan kehidupan yang dinamis versi sang Khalik ini. Manusia bernafas menghirup gas oksigen (O2) dan menghasilkan/menghembuskan gas karbondioksida (CO2). Manusia membakar kayu bakar atau menghidupkan mesin kendaraan bermotor yang menghasilkan gas CO2. Walau dihasilkan dari aktivitasnya sendiri, manusia justru tidak memerlukan gas CO2 dan bahkan gas tersebut membahayakan kesehatan manusia. Tetapi Allah Swt menciptakan tumbuh-tumbuhan yang menyerap gas CO2 yang merupakan limbah aktivitas manusia, untuk diubah menjadi karbohidrat dan gas oksigen (O2) yang sangat dibutuhkan manusia untuk mendukung kehidupannya. Allah Swt melalui sifat al-rahmaan-Nya telah menciptakan makhluk berupa tumbuh-tumbuhan yang bertugas mengubah bahan limbah aktivitas manusia menjadi bahan yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan manusia.

 

Penutup : Harapan dan Optimisme

Berdasarkan alur pemikiran di atas, jika seandainya semua mata pelajaran rumpun sains, misalnya kimia diajarkan ke peserta didik (siswa maupun mahasiswa) selain menekankan muatan konten kimianya juga diajarkan muatan spiritualnya, maka dapat dibayangkan bagaimana hasil pendidikan seperti itu? Hasilnya adalah siswa-siswi dan mahasiswa-mahasiswi yang kuat ilmu kimianya tetapi sangat religius. Hasilnya adalah sosok-sosok pemuda yang sangat ilmiah tetapi juga spiritualis. Hasilnya adalah dihasilkannya calon-calon ilmuwan sains yang juga sangat alim dan tawadhu’ (rendah hati). Penulis kira, bayangan produk pendidikan seperti di atas adalah dambaan kita semua. Tetapi untuk mewujudkan produk pendidikan yang memiliki karakter ilmiah-religius tersebut perlu disiapkan secara matang. Semua pihak yang terkait harus memiliki visi misi yang sama dan berkontribusi mensukseskan program tersebut. WaAllahu a’lam.

Gumpang Baru, 15 Oktober 2019

*Staff Pengajar, Penulis Buku dan Pegiat Literasi di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta

*Mahasiswa Program Studi S3-Pendidikan Kimia PPs Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here