Anak dan Akhlak

0
386

Oleh Ngainun Naim

 

Anak itu memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan orang tua. Peran penting anak inilah yang kemudian melahirkan aneka sebutan. Tulisan M. Tamam Wijaya (2019) menyebutkan tentang empat hal terkait anak, yaitu anak sebagai penyejuk hati, anak sebagai perhiasan, anak sebagai ujian, dan anak bisa menjadi musuh.

Semua orang tua pasti berharap yang terbaik terkait anak-anaknya. Namun harapan itu tidak akan terwujud jika anak tidak dikondisikan dengan hal-hal yang memungkinkan bagi tercapainya idealitas yang diharapkan. Artinya, dibutuhkan usaha serius agar anak bisa menjadi sosok sebagaimana harapan orang tuanya.

Sekarang ini tantangan untuk mendidik anak semakin berat. Media menjadi salah satu komponen yang telah menjadi bagian tidak terpisah dalam kehidupan anak-anak di zaman sekarang. Realitas zaman memang tidak bisa kita hindari, namun kita harus berusaha meminimalisir efek negatifnya. Jangan sampai akhlak anak kita rusak dan menjadi manusia brutal karena efek negatif media (Hardiman, 2021: 45).

Jadi akhlak mulia atau akhlak al-karimah merupakan aspek yang penting menjadi perhatian bersama di era sekarang ini. Hal ini disebabkan karena tantangannya semakin berat. Proses penanaman akhlak mulia itu bukan kerja instan. Juga bukan kerja yang bisa terukur secara pasti dalam rentang waktu tertentu. Memang ada ukuran tertentu bahwa seorang anak itu telah memiliki akhlak mulia. Namun demikian bukan berarti setelah itu prosesnya selesai.

Proses itu terus berlangsung sepanjang usia manusia. Sepanjang hidup, ada dinamika yang harus dihadapi. Di sinilah akhlak yang telah tertanam akan teraktualisasikan dalam kehidupan.

Teladan akhlak mulia adalah Nabi Muhammad Saw. Akhlak beliau sempurna. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah dinyatakan bahwa akhlak beliau adalah al-Qur’an. Bisa dibayangkan bagaimana keagungan akhlak beliau karena segala pernik hidup beliau merupakan gambaran dari al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri merupakan kitab suci yang menjadi pedoman dan petunjuk hidup seorang Muslim.

Tugas kita semua adalah meneladani akhlak Nabi. Tentu tidak mungkin meneladani seratus persen melainkan meneladani sebatas kemampuan sebagai manusia biasa. Akhlak Nabi itu sudah mantap dan tetap, sementara akhlak kita masih harus terus dirawat dan dikelola agar selalu sejalan dengan ajaran Islam.

Jika kita menghendaki anak kita memiliki akhlak mulia, kita sebagai orang tua harus menjadi teladan (Shihab: 2013, 111). Jangan sampai kita hanya berharap saja akhlak anak kita baik, sementara kita tidak peduli dengan akhlak kita sendiri.

Manusia berakhlak mulia adalah manusia yang selalu berusaha memperbaiki dirinya sebagai individu, sebagai bagian dari kehidupan sosial kemasyarakatan,  sebagai makhluk beragama, dan dalam interaksinya dengan alam. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Semua manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang berproses menjadi manusia yang berakhlak mulia.

Oleh karena itu, akhlak mulia yang telah terbentuk seyogyanya dijaga dan dikembangkan ke arah yang selalu berada dalam bingkai positif. Godaan sangat mungkin membelokkan arah akhlak yang tertanam lama. Jika ini yang terjadi, seseorang akan cepat merubah jalan dan orientasi hidupnya menuju ke arah kebaikan.

Aspek yang berkaitan dengan akhlak memang terlihat abstrak. Tetapi sesungguhnya ia menjadi bagian yang erat dan lekat dengan kehidupan. Ia selalu hadir dalam setiap gerak kehidupan.

 

 

 

 

Bacaan Pendukung

 

  1. Budi Hardiman, Aku Klik Maka Aku Ada, Manusia dalam Revolusi Digital, Yogyakarta: Kanisius, 2021
  2. Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi, Hidup Bersama Al-Quran, Bandung: Mizan, 2013.
  3. Tamam Wijaya (2019). “4 Posisi Anak dalam Al-Qur’an: Penyejuk, Perhiasan, Ujian, hingga Musuh”. https://islam.nu.or.id/tafsir/4-posisi-anak-dalam-al-qur-an-penyejuk-perhiasan-ujian-hingga-musuh-g5rBA

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here