Berdoa dengan Penuh Harapan dan Kecemasan

0
698

Oleh Bahrus Surur-Iyunk

Doa adalah senjata bagi orang yang beriman. Jika merupakan sebuah senjata, maka ia bisa digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah yang kadang tidak bisa diselesaikan secara akal. Karenanya, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk selalu berdoa kepada-Nya. Tidak pernah ada batasan bahwa berdoa itu harus memohon akan segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah ubudiyah saja.

Berdoa bisa merupakan permohonan ampunan, pertolongan dan apa saja yang berkaitan dengan kebaikan hidup seorang hamba di dunia dan akhirat. “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”. (Al-Mukmin: 60)

Dari ayat ini justru orang yang tidak berdoa itu dikatakan orang sombong. Jadi bukan hanya orang sombong karena tidak mau menyembah Allah, tetapi orang yang enggan untuk berdoa kepada Allah juga termasuk orang yang sombong. Maka memohonlah apa saja kepada Allah, termasuk memohon agar satu sandal yang hilang di masjid bisa dikembalikan. Karena doa menjadi tanda bahwa kita adalah seorang hamba yang lemah dan tidak pernah bisa melepaskan diri dari kekuasaan Allah.

Dalam berdoa kita tidak boleh terlalu optimis, sehingga seakan memastikan bahwa doanya pasti dikabulkan. Begitu juga tidak boleh terlalu khawatir tidak dikabulkan, sehingga seakan dia berputus asa bahwa doanya tidak akan terkabul. Allah memberi tuntunan kepada hamba-Nya, sebagaimana dalam QS. Al-A’raf: 55-56,

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta). 56. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Berdoa itu dengan rendah diri di hadapan-Nya. Ia mengakui bahwa hanya Allah-lah Yang Maha Menentukan segalanya. Cara berdoanya pun dengan suara yang lembut, tidak dengan suara yang keras, apalagi seperti berteriak, karena Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sikap dan suasana hati seorang yang berdoa tetap diiringi rasa khawatir tidak diterima, sehingga ia lebih serius dan khusyu’ dalam berdoa. Pun penuh harap dan khusnuzh-zhan bahwa Allah akan menerima dan mengabulkan doa kita.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah menjelaskan bahwa ada tiga macam doa yang tidak dikabulkan Allah,

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻋَﻦِ اﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ: ﻳُﺴﺘﺠﺎﺏُ ﻷﺣﺪِﻛُﻢ ﻣَﺎ ﻟَﻢ ﻳَﺪْﻉُ ﺑِﺈﺛﻢٍ ﺃَﻭ ﻗَﻄﻴﻌﺔُ ﺭَﺣﻢٍ، ﺃَﻭ ﻳَﺴﺘﻌﺠِﻞْ ﻓﻴﻘﻮﻝُ: ﺩَﻋﻮﺕُ ﻓَﻼ ﺃَﺭﻯ ﻳُﺴﺘَﺠﻴﺐُ ﻟِﻲ، ﻓَﻴﺪﻉُ اﻟﺪُّﻋَﺎء

 Dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: “Doa kalian akan dikabulkan selama tidak berdoa (1) dengan dosa (2) memutus kekerabatan (3) tergesa-gesa. Dia akan berkata “Aku sudah berdoa tapi tidak dikabulkan” akhirnya dia meninggalkan doa.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad

Sementara itu, doa kita akan selalu dikabulkan oleh Allah dengan tiga cara.

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﻌِﻴﺪٍ اﻟْﺨُﺪْﺭِﻱِّ ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻋَﻦِ اﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺈِﺛْﻢٍ ﻭَﻻَ ﺑِﻘَﻄِﻴﻌَﺔِ ﺭَﺣِﻢٍ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺇِﺣْﺪَﻯ ﺛَﻼَﺙٍ ﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳﻌﺠﻞ ﻟَﻪُ ﺩَﻋْﻮَﺗَﻪُ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺪَّﺧِﺮَﻫَﺎ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ اﻵْﺧِﺮَﺓِ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺪْﻓَﻊَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣِﻦَ اﻟﺴﻮء ﻣﺜﻠﻬﺎ) ﻗﺎﻝ: ﺇﺫا ﻳﻜﺜﺮ؟ ﻗﺎﻝ: اﻟﻠﻪ ﺃﻛﺜﺮ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Nabi SAW bersabda: “Tidak seorang Muslim yang berdoa, selama tidak berdoa dengan dosa dan memutus kekerabatan, kecuali Allah mengabulkan dengan disegerakan dikabulkan sesuai dengan permintaannya; Allah simpan dan diberikan di Akhirat;  atau Allah ganti dengan menghindarkan keburukan baginya yang setara dengan doanya”. Sahabat bertanya: “Kalau begitu kita memperbanyak doa?” Nabi menjawab: “Allah akan lebih banyak mengabulkan.” (HR Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).

Semoga kita termasuk orang yang sabar dalam berdoa. Sabar berarti mengetahui adanya sebuah proses yang harus dijalani. Sehingga kita tidak hanya berdoa, tetapi kita juga patut berusaha sebagai seorang manusia, sekecil apapun usaha yang kita lakukan. Usaha itu ibarat sebuah gelas yang siap dituangi air, sedangkan air adalah karunia Allah yang akan diberikan kepada kita sesuai dengan permohonan yang telah kita lantunkan. Ketika Allah hendak menuangkan air, maka kita harus menyiapkan gelasnya. Wallahu a’lamu.

foto: shutterstockphotos.com

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here