Eforia Saat Silaturahim

0
468

Setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan sebulan penuh, orang-orang Islam pun menyambut hari raya Idul Fitri dengan gembira. Bahkan banyak diantaranya yang menyambut Idul Fitri dengan eforia. Misalnya malam takbiran mengadakan pesta kembang api dengan biaya gila-gilaan dan menyulut petasan terus menerus sampai mengganggu ketenangan warga dan sampahnya mengotori lingkungan. Ketika silaturahim ada pesta makan aneka olahan daging sapi. Sehingga pengidap hipertensi terkena serangan jantung dan rumah sakit menjadi penuh

Eforia menurut Ilmu Kedokteran Jiwa karya WF Maramis adalah suatu perasaan sejahtera fisik dan emosi yang berlebihan, tidak sesuai dengan rangsangan atau kejadian-kejadian, biasanya psikogenik, tetapi kadang-kadang juga karena gangguan otak organik, keracunan atau ditimbulkan obat. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa eforia bukanlah cara yang tepat untuk menyambut Idul Fitri. Lalu apakah cara yang tepat untuk menyambut Idul Fitri? Caranya sederhana yaitu silaturahim

Sesungguhnya kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Oleh karena itu silaturahim adalah sebuah keniscayaan. Dalam ajaran Islam sendiri, silaturahim termasuk amalan sunnah sebagaimana bunyi hadits berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda, siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menjaga hubungan baik (silaturahim) dengan kerabatnya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. (HR Muslim dan Bukhori)

Silaturahim menurut KBBI mengandung arti menyambung hubungan kekerabatan atau persaudaraan.

Silaturahim sudah menjadi tradisi masyarakat sejak lama terutama masyarakat di daerah penulis yang mayoritas penduduknya muslim suku Madura.

Silaturahim biasanya dilakukan orang Madura setiap tahun dan bertepatan dengan hari raya idul Fitri.

Silaturahim merupakan salah satu bentuk kearifan lokal. Tradisi ini perlu dipertahankan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat silaturahim dengan kerabat antara lain adalah:

1. Acara makan tidak dilakukan dengan berdiri. Makanannya halal dan baik.

2. Tempat acaranya tidak bercampur dengan lawan jenis yang bukan mahram (orang yang boleh dinikahi).

3. Ketika acara berjabat tangan seseorang perlu memperhatikan ‘mahram’nya. Artinya seorang perempuan hanya bisa berjabat tangan dengan saudara kandung ibu atau ayahnya.

Silaturahim menjanjikan rumah mewah di surga. Sebagaimana bunyi hadits berikut, ” Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku melihat rumah mewah yang terbuat dari permata yaqut dari batu zamrud di surga. Dalamnya terbayang dari luar. Luarnya pun terbayang dari dalam. Aku bertanya untuk siapakah irumah itu wahai Jibril? Jibril menjawab,”Untuk mereka adalah menjaga hubungan baik dengan kerabat.” (HR Muslim dan Bukhori)

Amalan sunnah tersebut hendaklah dikerjakan dengan niat untuk meraih rida-Nya semata.
Karena untuk menggapai surga, tidaklah cukup dengan beramal shaleh. Meskipun seseorang rajin beramal shaleh seperti rajin silaturahim belum tentu ia bisa masuk surga. Kecuali jika ia melakukannya dengan penuh harap akan rahmat-Nya. Sebagaimana bunyi hadits berikut: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang darimu masuk Surga karena amalnya.” Para sahabat bertanya, “Tidak pula engkau, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ” Ya, tidak pula aku kecuali bila aku diliputi Allah dengan rahmat-Nya.” (HR Ahmad no. 7167)

Dengan demikian silaturahim haruslah dengan niat ikhlas. lakukan hanya untuk meraih ridho-Nya semata dan meneladani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Jika banyak silaturahim, tetapi tidak untuk meraih rida-Nya misalnya untuk mengumpulkan angpao atau pamer baju baru maka silaturahimnya akan menjadi sia-sia. Wallahu ‘alam.

#TantanganMenulisRaman.

Bondowoso, 30/03/2023.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here