KISAH TENTANG RAK BUKU DAN AKTIVITAS MENULIS

0
975

Catatan Menulisku (51)

KISAH TENTANG RAK BUKU DAN AKTIVITAS MENULIS
Oleh :
Agung Nugroho Catur Saputro

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah postingan dari mentor menulisku yaitu Dr. Ngainun Naim tentang keberadaan rak buku. Sayapun segera ikut memberikan komentar tentang rak buku yang saya miliki dengan tidak lupa mengunggah foto rak buku saya yang terletak di ruang tamu.

Bagi saya pribadi, keberadaan rak buku memang memiliki kesan tersendiri. Dulu setiap berkunjung ke rumah orang, jika di situ ada rak dengan deretan buku yang tertata rapi, saya selalu senang dan kagum pada pemiliknya. Entah mengapa saya selalu senang jika melihat rak-rak buku dengan banyak buku yang berada di dalamnya. Saya selalu merasa kagum dengan orang yang memiliki koleksi banyak buku. Ada semacam keinginan terpendam, suatu saat nanti saya juga ingin bisa memiliki rak-rak buku yang terisi banyak koleksi buku.

Ketika masa kecil, di rumah memang ada rak buku tapi tidak terlalu banyak buku-bukunya, itupun buku-buku milik bapak. Tapi buku-buku itulah yang telah membuatku memiliki minat baca yang tinggi. Selain buku-buku koleksi bapak tersebut, bapak juga berlangganan majalah bulanan. Oleh karena itu, setiap bulan saya mendapatkan bahan bacaan baru.

Ketika kuliah S1, karena sudah memiliki uang sendiri dari uang saku dan gaji dari bekerja, saya mulai mengoleksi buku-buku yang saya beli setiap bulannya di toko buku. Setiap bulan saya menyisihkan sebagian uang untuk membeli buku. Pernah kejadian, setelah ujian skripsi banyak buku-buku referensi skripsi yang saya kumpulkan satu demi satu dipinjam teman-teman seangkatan tetapi akhirnya tidak ada satupun yang kembali. Semua buku koleksi saya itu hilang entah kemana karena dipinjam-pinjamkan ke adik kelas. Saya waktu itu cukup sedih kehilangan buku-buku berharga tersebut. Akhirnya saya mengikhlaskan buku-buku tersebut dan kembali berburu buku-buku lagi di toko buku maupun lapak-lapak penjualan buku bekas.

Sedikit demi sedikit koleksi buku-buku saya terus bertambah. Saya mulai membeli rak buku yang sederhana untuk menaruh buku-buku saya di kamar. Saya terus menambah koleksi buku-buku dengan cara membeli di toko buku. Saya rutin main ke toko buku untuk sekadar membaca dan membeli buku-buku yang menarik menurutku. Saya mulai mempunyai pemikiran untuk membuat perpustakaan pribadi di rumah. Saya sangat mencintai buku-buku saya tersebut. Buku-buku tersebut saya sampuli agar tidak mudah rusak. Bagi saya, buku merupakan harta yang sangat berharga karena buku adalah sumber ilmu pengetahuan.

Menurut pendapat saya, nilai sebuah buku tidaklah dinilai dari penampilan dan wujud fisik buku, tetapi dari kandungan isi (ilmu)nya. Saya menghormati dan menghargai setiap ilmu pengetahuan yang terkandung dalam sebuah buku. Oleh karena itu, walau wujud fisiknya sudah lusuh dan banyak coret-coretan maupun bekas sobekan di beberapa bagian, jika saya merasa isinya bermanfaat maka tetap saya rawat buku tersebut. Terkadang saya berburu buku-buku bekas dan tua karena saya merasa buku-buku zaman dulu banyak yang berkualitas. Buku-buku zaman dulu isinya lebih lengkap dan mendalam pembahasannya.

Pernah ketika masih kuliah S1, di sebuah stand pameran buku saya menemukan sebuah buku yang tahun terbitnya sebelum saya lahir, isinya sangat menarik. Maka tanpa pertimbangan lama, sayapun segera membeli buku tersebut, apalagi harganya cukup murah karena sudah cukup tua usia buku tersebut. Sampai sekarang buku tersebut masih saya simpan dan menjadi salah satu referensi saya dalam menyusun materi kuliah di mata kuliah yang saya ampu.

Setelah saya menikah dan memiliki rumah sendiri, hobi berburu buku-buku semakin menjadi dan menggila. Saya jarang membeli barang-barang kebutuhan non-primer terkait kebutuhan pribadi saya. Tetapi khusus untuk buku, saya menyediakan anggaran khusus untuk menambah koleksi buku-buku di perpustakaan pribadi.

Hobi berburu dan mengoleksi buku-buku berdampak pula pada minat saya untuk menulis buku. Setiap membaca sebuah buku, saya selalu kagum dengan penulisnya. Saya heran, bagaimana cara sang penulis mampu menuliskan ide, pemikiran dan gagasannya ke dalam bentuk tulisan yang berjumlah puluhan sampai ratusan halaman dan bahkan ribuan halaman. Dari rasa penasaran tersebut mendorong saya untuk terus belajar bagaimana agar bisa menulis buku.

Perjalanan panjang untuk mampu menulis buku telah saya jalani. Suka duka untuk menjadi penulis buku telah saya alami. Berbagai pelatihan menulis telah pernah saya ikuti. Akhirnya, melalui perjuangan panjang yang tanpa mengenal lelah dan putus asa, sekarang saya telah mampu menulis puluhan buku. Saya bahkan pernah meraih juara 1 tingkat nasional pada lomba penulisan buku pelajaran yang diselenggarakan oleh Departemen Agama RI (sekarang Kementerian Agama RI).

Kala itu, saya merasakan kebanggan dan kebahagiaan yang amat sangat. Saya tidak pernah menyangka bisa mengalami pengalaman berharga tersebut. Sejak kecil saya tidak pernah membayangkan kalau suatu saat akan diundang menteri untuk menghadiri acara besar di kantor kementerian. Waktu itu, ada kebanggan yang amat sangat ketika saya mengajak istri ikut mendampingi saya untuk menghadiri dan menyaksikan acara penyerahan piala dan hadiah lomba dari bapak Menteri Agama di aula gedung Kementerian Agama RI di Jakarta. Dari aktivitas menulis buku, saya sudah menikmati hasilnya. Tidak hanya saya saja yang menikmati hasil dari menulis buku, tapi keluarga saya juga ikut menikmatinya karena rumah yang kami tempati sekarang merupakan berkah dari aktivitas menulis buku yang saya tekuni selama ini.

Gumpang Baru, 26/02/2020

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here