GoT Lover’s Story 002

0
107

Maria mengantar Arya sampai pintu ruang tamu.

“Assalamualaikum,” ucap Arya sambil bergegas meninggalkan rumah Maria.

“Wa alaikummusallam,” jawab Maria. Setelah Arya pergi Maria berdiri mematung di dekat pintu. Wajahnya tampak ketakutan.

Umi mendekati Maria dan bertanya dengan pandangan mata keheranan, “Kenapa Arya cepat-cepat pulang?”

“Mungkin ada urusan penting,” jawab Maria sekenanya.

“Tadi Arya ke sini ada keperluan apa?”

“Tidak ada keperluan apa-apa. Hanya main. Lama sudah tidak bertemu.”

“Tadi pasti seru ngobrolnya. Karena lama tidak bertemu.”

“Tentu saja. Apalagi ketika Arya bercerita tentang Game…” Maria menutup mulutnya. Tak melanjutkan ucapannya.

“Game apa itu, Maria?” Umi bertanya spontan.

Maria diam menunduk.

“Apakah Game of Thrones?”

Maria mengangguk pelan. Lalu balik bertanya, “Umi tahu dari mana?”

“Dari medsos. Tetapi, umi tak tahu apa itu Game of Thrones.”

“Game of Thrones atau GoT adalah film serial yang tayang di sebuah stasiun televisi. Film itu menceritakan tentang perebutan tahta atau kekuasaan di Iron Throne oleh tujuh kerajaan selama tujuh musim.

“Arya suka nonton GoT?” tanya umi.

“Arya tidak hanya suka. Tetapi juga GoT lover”.

“Apa kamu juga ingin menjadi GoT lover?”

“Nggaklah, Umi. Aku ingin belajar menjadi muslimah sejati.”

“Kalau begitu ikutlah kegiatan sekolah muslimah di Yayasan Asyifa. Insyaallah tiga bulan lagi dimulai kegiatannya.”

“Insya Allah,” sahut Maris.

“Ajak Arya. Tapi sebelumnya ajak dia ke warung makan Barokah. Ini uangnya!” Ucap Umi sambil menyerahkan satu lembar uang.

“Terima kasih, Umi,” ucap Maria sambil menerima 50 ribu.

“Kapan kau ajak Arya ke warung Barokah?”

“Sebentar lagi. Aku mau ganti baju dulu.”

Setelah berbusana muslimah rapi Maria naik motor ke rumah Arya. Jaraknya sekitar 500 meter dari rumahnya.

Kebetulan Arya dan mamanya ada di di teras rumahnya. Maria langsung minta izin mamanya untuk mengajak Arya pergi ke Warung Barokah.

Maria dan Arya duduk berhadapan. Sebelum pelayan datang, Maria bertanya kepada Arya,” Kamu mau makan apa, Arya?”

“Nasi goreng,” jawab Arya.

“Minumnya?” tanya Maria.

“Es degan.”

Maria pun memesan makanan dan minuman kepada Mbak pelayan.

“Mbak, gado-gado, nasi goreng, es degan dan es cincau masing-masing satu porsi,” pesan Maria kepada Mbak pelayan.

Mbak pelayan mencatat pesanan Maria “Baik. Pesanan akan segera dikeluarkan,” jawab Mbak pelayan ramah.

Tak lama kemudian gado-gado, nasi goreng es degan dan es cincau terhidang di meja makan mereka.

Maria dan Arya menyantap makanan mereka masing-masing. Arya makan dengan lahapnya. Bahkan Arya makan nasi gorengnya hingga tandas. Tak tersisa sedikit pun. Setelah itu Arya menyedot minumannya sambil menatap layar ponselnya melihat YouTube. Sedangkan Maria masih menunggu isi perutnya melorot sambil membaca buku yang berjudul “Menggapai Manisnya Iman” karya Ibnul Qayyim Al Jauziyah.

Maria menarik nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya pelan-pelan.

“Arya, sudah sekian lama perhatian kita tercurah pada makanan yang membuat tubuh kita sehat agar kita terhindar dari virus Corona. Sementara perhatian kita terhadap makanan yang membuat hati kita sehat sangat jarang. Padahal di akhirat kelak, hati yang sehatlah yang akan mencegah kita dari siksa neraka dan sekaligus mengantarkan kita ke surga, ” kata Maria memulai percakapan.

“Maksudmu?”

“Kita harus berupaya membuat hati kita sehat,” jawab Maria.

“Hati yang sehat. Apa itu?” Tanya Arya heran.

“Hati yang sehat itu identik dengan hati yang selamat,” jawab Maria.

“Hati yang selamat? Aku tambah tak paham, Maria.”

“Hati yang selamat menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullah adalah hati yang bersih dari segala bentuk kesyirikan. Hati yang meyakini bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah. Ibadahnya, salatnya, rasa cintanya hanya ia tujukan kepada Allah semata. Artinya ketika seseorang mencintai temannya maka cintanya itu harus karena Allah. Sehingga ketika temannya berlaku buruk kepadanya maka ia bersabar. Karena, Allah memerintahkannya untuk bersabar, ” jelas Maria.

Arya diam sambil melihat HP-nya

“Hati yang selamat adalah hati seseorang yang tunduk pada aturan-Nya. Contohnya ketika seorang anak perempuan sudah baligh maka ia harus pakai jilbab.”

Kontan saja mata Arya terbelalak.

“Kalau belum bisa…tak masalah. Itu sekedar contoh.”

“Jujur sku belum siap pakai jilbab. Aku masih suka pakai T-shirt dan blue jeans.”

“Ya. Tak mengapa.” Lalu Maria melanjutkan perkataannya,”Baik buruknya hati sangat menentukan selamat tidaknya anggota badan, baik ketika di dunia maupun di akhirat kelak.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jazad manusia itu ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik maka akan baiklah seluruh jasadnya. Namun, jika segumpal daging itu buruk maka buruklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati” Ini bunyi hadis riwayat Bukhari no.52 dan Muslim no. 7,” jelas Adil sambil menikmati dalgonanya.

Arya menguap.

“Hati memerlukan nutrisi agar tumbuh sehat. Nutrisi hati itu tidak lain adalah istikamah mengerjakan amalan sunah seperti salat sunah Dhuha dan Tahajud, tilawah, berpuasa sunah, bersedekah, dzikirullah, sholawat dan banyak beristighfar, ” kata Maria tanpa melihat Arya.

Arya diam membisu.

“Dalam soal istighfar
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,”Sesungguhnya hatiku sedikit lupa mengingat Allah maka aku beristighfar kepada- Nya dalam sehari seratus kali… ” ucap Maria.

Arya masih menunduk.

“Doa untuk menjaga kesehatan hati sebagaimana yang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam contohkan adalah, “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku agar selalu di atas agama-Mu,” kata Maria membaca doa.

Arya semakin menunduk.

“Kalau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang ma’shum saja setiap hari selalu memohon ampun kepada-Nya agar hatinya terjaga maka apalagi kita yang banyak berlumuran dosa,” Maria menutup bukunya.

Betapa terkejut hati Maria ketika melihat Arya menelungkupkan kepalanya di meja. Lebih-lebih ketika Maria melihat Arya mengigau.

Maria cepat-cepat berdiri dan mendekati Arya yang tertidur.

“Arya,bangun!” Maria membangunkan Arya sambil mengguncang-guncang lengannya.

“Tidak mau,” ucap Arya lirih dengan mata masih terpejam.

“Ayo bangun,” kata Maria lagi.

Tiba-tiba Arya berteriak,
“Pergiii!”

“Ayo kita pulang!” Kata Maria sambil memercikkan air dalam kemasan ke muka Arya

Arya membuka matanya dengan ekspresi ketakutan.

“Ada apa, Arya?” Tanya Maria heran.

“Barusan aku mimpi dikerumuni orang-orang seperti adegan di Walk of Shame GoT. Aku disuruh berjalan tetapi kemudian bajuku dilepas…”

“Astaghfirullah wa atubu ilaihi,” seru Maria.

Setelah membayar makanannya ke kasir, Maria mengajak Arya pulang.

Bersambung

 

Biodata Narasi
Abdisita Sandhyasosi. Alumni psikologi Unair. Pernah ngajar di PP Al-Ishlah Bondowoso. Ibu lima anak. Tinggal di Bondowoso. Bergabung di Blog Kompasiana. Penulis buku solo “5 Kunci Sukses Hidup” (Tinta Medina, 2017) dan sejumlah buku antologi Quantum Belajar (Genius Media,2016), Mata Air Pesantren (Genius Media, 2016), Aku, Buku dan Membaca (Akademia Pustaka, 2017), Perempuan Dalam Pusaran Kehidupan (Diandra, 2018), Gaya Hidup Di Era Pandemi Covid-19 (Sahabat Pena Kita, 2021) Titik Balik Menuju Cahaya (Sahabat Pena Kita, 2021), Inspirasi Menulis dan Menerbitkan Buku (Oase, 2021) Profesor Ngainun Naim (Sahabat Pena Kita, 2022) FB Sakura Hurulaini. Email: hamdanummu27@gmail.com

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here