Mama Selingkuh

0
1954

Oleh Syahrul*

“Bagitu, Pak.” Tuturnya sambil membenahi jilbabnya. Sudut matanya mulai sembab. Terdengar desahan tipis.

Entah kenapa hidup ini terasa tambah rumit. Ia yang berbuat saya yang ikut pusing.

Namanya Bunga. Gadis cantik berkacamata. Kuliah semester tiga jurusan pendidikan. Sewaktu SMP pernah menjadi murid di tempat saya mengajar. Kini adiknya, Sinta, menjadi murid saya. Dari sini malasah bermula.
.
“Jika itu menimpa bapak, di usia seperti ini, bagaimana bapak bersikap?”

Cukup lama saya terdiam sebelum menjawab pertanyaan ini. Sepengetahuan saya, dulu bukan masalah seperti ini yang sering muncul. Paling banter godain cewek lalu dijewer sama guru. Atau kehabisan uang jajan lalu tidak bayar di kantin dan dihukum.

Sinta yang kecantikannya jauh di atas kakaknya ketahuan membawa HP di kelas. Setelah disita dan diperiksa, terdapat konten pornografi. Ia berpacaran dengan teman sekelas yang terkenal tingkat kenakalannya. Kepala sukunya. Di dalam story chatt via wa, si laki-laki meminta foto sange (baca: vulgar) kepada Sinta. Fotonya ada. Tentu tidak ketinggalan obrolan-obralan mesum. Itu dilakukan di dalam kamar sampai larut malam.

Setelah dimediasi dan pembinaan, dibuat kesepakatan jalan terbaik. Membuat surat perjanjian. Bukannya sadar, Sinta malah mengulanginya, malah lebih jauh. Kabur main sampai malam bersama kepala suku. Surat peringatan terakhir pun keluar. Tentu melibatkan orangtua keduanya.

Sebenarnya, banyak yang iri dengan keluarga Bunga dan Sinta. Secara ekonomi mapan. Bahkan jatah jajan keduanya unlimited. Tinggal ambil. Wajah ayu nan mempesona. Memiliki kecerdasan yang lumayan. Duh, semua kesengan dunia dalam genggaman. Tetapi, tidak ada yang tahu, jika keluarga ini sedang dalam masalah besar. Pernikahan di ujung tanduk.

Sejak peringatan terakhir, kondisi kembali normal. Namun, Sinta kemudian menghilangkan selama semingggu. Tidak ada kabar.

[Adikmu kemana, Bunga?] Pesan via wa saya kirimkan.

[Kita ketemuan di Caffe X, Pak. Ada yang mau saya sampaikan], balasnya.
[Jam 4 sore]
[Saya bersama adik]
Pesannya beruntun masuk.
[Baik.]

Motor butut terparkir miring. Menunjukkan usianya sudah sepuh. Menjerit minta diganti. Apalah daya guru honorer, yang nasibnya selalu digantung. Setiap akhir bulan jadi horor. Belum bayaran, uang sudah habisan.

Di pojok nampak Bunga melambaikan tangan. Di bahunya bersandar Sinta sambil sesekali terisak.

“Assalamualaikum, Pak.” Sapanya sambil mengatupkan dua tangan ke dada.

Setelah cukup basa basinya, Bunga mulai menceritakan masalahnya.

“Saya bingung. Sewaktu SMA dulu, saya suka dengan seorang laki-laki. Hubungan kami cukup dekat. Ibu saya tidak pernah melarang kami pacaran asal tahu batasannya saja. Saya juga nggak tahu apa batasannya. Kayak yang di TV-TV itu kali.

Sampai suatu hari, pacar saya mendapati mama saya jalan dengan seorang laki-laki. Dan pria itu adalah sahabat dari pacar saya. Hati saya remuk, Pak.” Sambil terisak, Bunga mendekap Sinta.

“Dan Sinta ini yang tahu terlebih dahulu kelakuan mama. Bagaimana bisa mama berbuat sekeji itu sama papa.”

“Ayah tahu?”

“Belum saya ceritakan, Pak. Meskipun hampir 2 tahun kejadiannya.” Saya serba salah. Saya sudah bilang ke Mama. Tidak ada respon positif. Dan terakhir, ia minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi setelah Sinta mendapat Surat Peringatan Terakhir. Tapi semuanya BOHONG. Sinta memergoki mereka berduaan seminggu yang lalu. Itu yang membuatnya kabur dari rumah. Sinta tertekan, Pak.”

Beberapa menit suasana hening. Beruntung pengunjung Kafe masih sepi. Beberapa pengunjung pun nggak ambil pusing. Lebih asyik bercinta dengan HP masing-masing.

Saya hanya bisa diam. Saya tahu diri bahwa perselingkuhan dalam keluarga bisa menimpa siapa saja. Tidak kenal status sosial. Saya pun ragu, apakah bisa bertahan untuk tetap setia 10, 20, 30 tahun kedepan. Saat semua pintu perselingkuhan itu terbuka lebar-lebar. Uang ada, gadis cantik ada, kesempatan ada. Sementara istri sudah semakin tidak menarik, banyak mengeluh, dll dan dll.

“Pak. Bagaimana, Pak. Jika itu menimpa bapak di usia seperti saya? Apa yang harus saya lakukan?”

“Sabar dan perbanyak shalat. Perbanyak curhat dan dialog dengan Tuhan. Dia yang mengajari kita menghadapi masalah bukan dengan menyelesaikannya.” Jawaban standar saya yang tidak memuaskannya. Tapi, biarkan waktu yang mendewasakannya.

“Pesan saya buatmu Bunga dan juga Sinta, belajarlah dari sini. Semua masalah ini berawal dari memilih pasangan hidup.”

***
Hujan gerimis mengantarkan motor butut ini menuju rumah mungil kami. Azzam dan Taqiyya menyambut saya dengan pelukan manja.

“Abi, ntar malam jadi kan makan di di luar?”
“Jadi donk. Kasih abi pelukan lagi donk.”

Mereka kembali memeluk dengan penuh hangat. “Abi mencintai Ummimu,” gumamku di telinga keduanya.

Dari balik kamar istri tercinta yang sedang mengandung anak ketiga melambaikan tangan, “Punya uang nggak?”
“Ya Allah, tanggal berapa ini?”

***
*suami berjanji untuk setia

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here