KADANG HIDUP PERLU DIPAKSA

0
1628

Delapan bulan masa pandemi Covid-19, berangsur-angsur terjadi penyesuaian perilaku. Pada satu sisi, perubahan pada awalnya dianggap sulit, kini malah banyak yang berhasil mensiasati keadaan sehingga hidup tetap nyaman. Bahkan makin nyaman dan berarti. Contohnya soal menggali kreasi.

Boleh jadi selama ini kita abai dengan potensi diri. Kita cenderung mau tahu beres. Cepat menganggap diri tidak bisa. Intinya sebenarnya malas.

Pandemi telah memaksa kita berubah. Dengan “paksaan” ini akhirnya kita sadar bahwa kita ternyata bisa berbuat sesuatu. Hanya soal kemauan!

Mari tanya diri sendiri, kebisaan apa yang bertambah selama kita banyak tinggal di rumah? Tidak ada? T e r l a l u!

Contohnya, banyak ibu rumah tangga, mendadak pandai bikin roti, bikin kue, bikin aneka hidangan dari bahan apa adanya. Rumah menjadi asri karena kehadiran aneka tanaman dalam pot di halaman mungil rumah. Lemari pakaian semakin rapi karena sejumlah pakaian yang sesungguhnya tidak atau jarang dipakai sudah dikeluarkan dan beralih tangan kepada yang lebih membutuhkan. Anak-anak mulai menyukai kegiatan merapikan rumah dan membantu orangtua. Para suami mulai membuat perencanaan keuangan keluarga secara tertulis. Intinya, keluarga melakukan perubahan gaya hidup dan mengubah kebiasaan yang tidak produktif. Ini sebagian contoh kecil.

Kalau sudah begini, apakah kita akan terus menerus mengutuk keadaan?

Tidak salah jika sebuah pameo mengatakan bahwa dalam kondisi terdesak manusia akan bertindak. Hanya orang yang berpikir positif dan berbaik sangka bisa mengubah situasi menjadikan dirinyai lebih baik. Dan ia berkejaran dengan waktu.

Yuk, mari kita hitung, selama masa pandemi ini, kebisaan apa yang bertambah? Nikmati hidup dengan mengalahkan kemalasan dan banyak bersyukur.

Kita pasti bisa!

Bks, 17/11/2020

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here