Iman kepada Yang Ghaib

0
92

Oleh: Muhammad Abdul Aziz

Banyak sekali dari kita yang hafal 5 ayat pertama dari surat al-Baqarah. Yang dibuka dengan “Alim Lam Mim”, dan diakhiri “wa ulaika humul muflihun”. Tapi hafalan itu pada sebagian kasus hanya berhenti pada hafalan itu sendiri. Termasuk sebenarnya apa yang terjadi pada saya. Bahkan hingga sekarang-sekarang ini. Dalam bahasa Gus Baha’, “moco tapi ra ngerti artine.” Atau juga dalam nasihat Prof Jamal Badi, kita sering membaca, tapi jarang melakukan tadabbur.

Bagaimana pun juga, ketika saya mulai berusaha menceburkan diri – syukur-syukur sampai menyelam – dalam kajian pemikiran Islam, terutama ketika dulu saya bertemu dengan dan berkesempatan mengajar Jaz Cooper, seorang muallaf dari Australia di Universitas Darussalam Gontor, saya menjadi semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya dibawa oleh ayat ini?

Terutama ketika redaksi “al-ladzina yu’minun bi al-ghaib” memerincikan apa sebenarnya ciri mereka para muttaqin, orang-orang yang bertakwa.

Jadi Mas Jaz Cooper itu – rasanya boleh juga saya panggil demikian sebab istrinya berasal dari Nganjuk Jawa Timur – menceritakan bahwa ayahnya ketika itu masih ateis. Dia tidak percaya pada hal-hal transenden, atau lebih kurangnya bisa kita istilahkan hal yang ghaib. Saya kemudian menyarankan, jika definisi ghaib tersebut disederhanakan menjadik sesuatu yang tidak terlihat oleh kasat mata, bukankah kita juga tidak melihat angin, namun kita merasakannya. Lalu apa kita mengingkari keberadaan angin tersebut?
Jika kita juga merasakan piranti teknologi kita terbantukan dengan apa yang dinamakan sinyal, yang tentu saja ia kasat mata, lalu apa lantas kita akan mengingkari keberadaan sinyal tersebut dan membuang HP kita? Kenyataan bahwa kita terus memakai HP adalah bukti secara tidak langsung bahwa kita telah percaya dan mengambil manfaat pada hal-hal yang ghaib.

Saya ingin mengatakan bahwa hal yang paling ghaib dari sekian yang ghaib, bahkan ia menjadi asal mula segala yang disebut sesuatu, baik yang abstrak maupun yang konkrit, adalah Allah Swt. Alam, dengan definisinya sebagai “kullu ma siwa Allah”, adalah “cipratan e Gusti Allah” – demikian kata saya pada istri dalam kajian tadi malam. Ia merupakan pancaran keindahan dan keagungan Allah Swt. Atau emanasi dari, meminjam bahasa Ustadz Hasib Amrullah, jamal dan jalal-Nya Gusti Allah.


Kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin lama semakin dahsyat ini merupakan buah dari ilmu pengetahuan. Dalam beberapa hal, menurut paradigma Barat, ilmu tersebut merupakan hasil dari oleh pikir ilmiah mereka yang ternyata lebih bersifat empiris-positivis. Bahwa sesuatu disebut ilmiah, jika ia kemudian bisa dilihat dan dibuktikan secara empiris dalam laboratorium. Alias, fakta ilmiah tersebut merupakan bilangan positif, bukan negatif. Ia nyata bukan imaginer. Pada titik inilah, terletak kekufuran, atau lebih halusnya ketidak-Islaman, awal paradigma ilmu-ilmu modern tersebut. Ia tidak percaya pada yang ghaib. Dan inilah yang dari awal sudah diperingatkan oleh al-Quran bahwa ciri pertama orang yang bertakwa adalah “al-ladzina yu’minuna bi al-ghayb”. Dan inilah yang sebenarnya secara apriori kita terima sebagai dua yang pertama dari Rukun Islam; Iman kepada Allah Swt dan para Malaikat-Nya. Wallahu A’lam.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here