Ibu Di Hati Slalu

0
1026

Ibu Di Hati Slalu

 

Sri Lestari Linawati

 

Ketika bahagia, wajar bila kau ingat Bunda

Namun benarkah kau tak punya siapa-siapa saat berduka?

Saat kau lelah

Atau tak berdaya

Oleh kesibukan dunia yang menyesakkan dada

Ingatlah selalu Sang Bunda

 

Bunda mendoakanmu sepanjang masa

Agar kau capai kemuliaan

Karena kau muliakan sesama

Itulah kebahagiaan sejati bagi Bunda

Bukan emas, perak dan intan permata

 

Apalah artinya kemewahan dunia

Bila tiada kau miliki akhlak mulia dan utama

Bunda kan bermuram durja

Bila tiada manfaat kau berikan pada semesta

 

Mulailah saat ini juga

Tiada kata terlambat untuk sebuah cita

Manfaatkan waktu yang amat berharga

Penyesalan di hari akhir sia-sia tiada berguna

 

Mari sambut panggilan alam raya

Ampunan Tuhan masih bisa diraih dengan suka ria

Amal shalih terus memanggil setiap jiwa

Ingatlah kehidupan kekal abadi yang pasti akan kita rasa

 

(Sri Lestari Linawati, Penghujung 2019)

 

Setiap tanggal satu, saya bertugas mengumumkan tema baru tulisan wajib komunitas menulis SPK. Menurut saya, komunitas menulis SPK ini unik dan menarik. Uniknya, SPK anggotanya beragam, namun memiliki satu jiwa, satu semangat yang sama: menulis, titik. Menariknya, dengan keragaman anggotanya bukannya jadi pecah berantakan, sebaliknya, senantiasa membangun semangat untuk terus menulis dan berkarya. Sungguh, menulis itu gampang-gampang susah.  Karena itulah, saya merasa perlu untuk melakukan riset kecil untuk tema yang ditetapkan pengurus.

 

Riset? Riset apaan? Yach… riset terhadap apa yang saya ketahui, saya rasakan, saya alami, saya dengar dan saya lakukan terhadap “Ibu”. Metodenya? Adalah wawancara terlibat. Mengapa perlu riset untuk tulisan yang hanya maksimal 6 halaman itu? Karena tulisan itu bukan sekedar kenangan, namun sekaligus bahan refleksi terhadap konsep “Ibu”. Kok? Karena saya memiliki Ibu yang melahirkan saya, sejak menikah saya memiliki dua ibu, yaitu ibu sendiri dan ibu mertua, dan sekarang saya jadi ibu bagi putra-putri kami.

 

Puisi Kahlil Gibran atau Khalil Jubran berikut menarik untuk kita kaji. Khalil Jubran adalah seorang sastrawan yang lahir di Lebanon pada 6 Januari 1883. Jubran meninggal di New York City Amerika Serikat pada 10 April 1931 pada umur 48 tahun.

 

Putramu Bukanlah Milikmu

 

Putramu bukanlah milikmu

Mereka adalah putra-putri kehidupan,

Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu.

Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,

Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu

karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri

 

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,

Karena jiwanya milik masa mendatang

Yang tak bisa kau datangi

Bahkan dalam mimpi sekalipun

 

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah

Menuntut mereka jadi seperti sepertimu.

Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan

Tidak tenggelam di masa lampau.

 

Kaulah busur,

Dan anak – anakmulah anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.

Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya,

hingga anak panah itu meleset,

jauh serta cepat.

 

Meliuklah dengan sukacita

Dalam rentangan Sang Pemanah, sebab Dia

Mengasihi anak- anak panah yang meleset laksana kilat,

Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap

 

Tampaknya puisi Khalil Jubran tersebut sederhana, namun maknanya mendalam. Setiap orang tua, khususnya ibu, pastilah sangat mencintai anak-anaknya, menyayangi buah hatinya. Demikian pula anak, musti taat dan patuh pada orang tua. Namun demikian, cinta dan sayang orang tua pada anak janganlah melebihi cintanya pada Allah Sang Pencipta. Anak pun demikian, tidak diperkenankan melebihi taat dan patuhnya pada Sang Pemilik Kehidupan. Sungguh, ini tidak mudah, memerlukan latihan dan latihan secara terus-menerus.

 

Kedua, Kisah Inspiratif Lulusan Terbaik UGM emang kaya apa? Beneran inspiratif? Analisa widyaningrum. Awalnya saya nonton karena iseng saja, namun nonton berkali-kali pun, tetap menarik. Mengapa? Kisahnya mengingatkan kita pada sosok dan perjuangan seorang ibu. Bila ibunya mbak Analisa S3 (SD, SMP, SMA), maka ibu saya S1, alias SD saja. Waktu itu namanya masih SR, Sekolah Rakyat. Sebagaimana mbak Analisa, saya juga kuliah di UGM. Sesuatu banget memang, ketika saya diwisuda S1 Sastra Arab di Graha Sabha Pramana waktu itu, Mei 1997, kemudian Bapak Ibu turut hadir.

 

Sewaktu S2, bahkan Ibu saya minta hadir di sidang munaqasah, sekedar agar Ibu ikut menyaksikan putri bungsunya mempertanggungjawabkan keilmuannya. Maklumlah, sekali lagi Ibu saya hanya lulusan SR, tidak pernah tahu apa dan bagaimana kuliah itu, termasuk bagaimana gedung kampus itu dan suasananya. Ibu sangat ingin agar putrinya yang sarjana dapat bermanfaat bagi masyarakat.

 

Saat tulisan ini digoreskan, saya baru saja telpon video call dengan Ibu via hp Si Bungsu. Kini Ibu tampak sumringah dan tenang. Bungsu kami, singkat cerita, ingin sekolah SLTA di Jember sekaligus menemai Mbah Uti. Tentu ini hadiah terindah akhir tahun dalam kehidupan rumah tangga kami. Dengan niat putra kami tersebut, lagi-lagi mengharuskan kami membaca lagi puisi Kahlil Jubran itu. Semoga dengan itu, hubungan kami dengan Ibu semakin dekat. Ibu tidak lagi sendiri. Kami juga kian menyadari makna doa kepada kedua orang tua setiap usai shalat. Kepada Allah saja kita semua berserah diri.

 

Lirik lagu Iwan Fals berikut ini juga perlu kita renungkan.

ibu

ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah

seperti udara kasih yang engkau berikan
tak mampu ku membalas, ibu… ibu…

ingin ku dekat dan menangis di pangkuanmu
sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
dengan apa membalas, ibu… ibu…

ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah

seperti udara kasih yang engkau berikan
tak mampu ku membalas, ibu… ibu…

 

Ketika jamaah pengajian saya tanya lagu tersebut, segera dijawab, “Kasih Ibu”. Namun bagaimana bila yang kita baca adalah ayat Al-Qur’an yang notabene berbahasa Arab? Nah, beda kan? Ini mengajarkan pada kita untuk lebih gencar mengenalkan bahasa Arab, agar bahasa Arab lebih bisa difahami dengan mudah.

 

Bagaimana dengan lagu Maywood – Mother How Are You Today?

Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter.
With me everything is ok.
Mother, how are you today?

Mother, don’t worry, I’m fine.
Promise to see you this summer.
This time there will be no delay.
Mother, how are you today?

I found the man of my dreams.
Next time you will get to know him.
Many things happened while I was away.
Mother, how are you today?

 

Apakah yang menarik dari lagu ini? Saya membayangkan bila sekolah maupun TPA yang jumlahnya ribuan itu mengajarkan lagu ini sejak dini. Selain nilai akhlak, bahasa Inggris, ini juga mengajarkan semangat menjelajah bumi. Para siswa akan belajar dengan tenang dan nyaman karena mereka telah memiliki orientasi studi.

 

Mengapa saya menginginkan itu semua? Karena saya ingin Ibu bahagia. Bapak dan Ibu kami pernah memimpikannya. Semoga kami dapat meneruskan, melanjutkan cita-cita Ibu dan Bapak kami dalam mencerdaskan anak-anak Indonesia, berada dalam persatuan dan kesatuan, dan senantiasa dalam lindungan dan ridha Allah. Amin.

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here