Anak Adalah Penyejuk Mata

0
337

Anak adalah ujian cinta orang tua dari-Nya Zat yang memberi amanah dan sekaligus nikmat atau hiburan yang tiada tara. Artinya, apakah orang tua tetap mencintai-Nya di atas segalanya setelah kelahiran anak mereka atau sebaliknya? Oleh karena itu agar anak membuat kita semakin mencintai-Nya di atas segalanya dan dapat menjadi penyejuk mata, maka orang tua sebagai sekolah pertama dalam kehidupan anak perlu melakukan beberapa langkah.
Apapun profesi orang tua, mendidik anak adalah tugas utama mereka. Kenapa? Karena, orang tua terutama Bunda adalah sekolah bagi anak-anaknya. Pendidikan yang baik itu tidak hanya mencetak anak menjadi pandai atau berilmu pengetahuan tetapi juga membuat anak menjadi bertakwa lagi berakhlak mulia. Tuntunannya adalah nasihat Luqman kepada anaknya, tepatnya firman-Nya yang tercantum dalam surat Luqman ayat 12-19. Pendidikan yang baik itu adalah mendidik anak agar:

 

(1) Pandai bersyukur.


Allah ta’ala berfirman, Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu ,”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (QS Luqman:12)
Orang tua tidak hanya mendidik anak agar pandai mengucapkan Hamdallah Tetapi, juga mendidik anak agar mau bersyukur dalam berbagai keadaan, berbuat adil dan benar terhadap dirinya sendiri. Kadang kala anak merasa kecewa terhadap keadaan dirinya sendiri. Kemudian dia bertanya kepada bundanya. Mengapa hidup kita miskin, bunda? Kenapa tasku tak sekeren punya temanku, Bunda? Kenapa bajuku tidak sebagus punya anak tetangga, Bunda? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggambarkan bahwa anak masih belum bisa melihat dengan jernih apa yang ada pada dirinya. Hal ini boleh jadi karena bunda mungkin sering membanding-bandingkan dirinya dengan anak lainnya. Atau Bunda sering berkeluh kesah di depan anak. Padahal apa yang ada pada kita sudah merupakan pemberian Allah yang terbaik. Hanya kita sering lupa mensyukurinya. Oleh karena itu orang tua terutama Bunda perlu menunjukkan ekspresi syukur di depan anak-anak. Meskipun pada perkara sepele. Misalnya, ketika Allah ta’ala memberi kemampuan pada Bunda untuk membeli buah kesukaan anak.

 

(2) Tidak menyekutukan-Nya. 

Allah ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran Nya, “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya menyekutukan (Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS Luqman:12)
Orang tua hendaknya mendidik anak agar menjauhi syirik yaitu dengan tidak menyekutukan Allah. Karena, syirik merupakan kedzaliman yang paling besar. Katakan pada anak bahwa Allah selalu sendirian menjaga makhluk-Nya. Allah selalu sendirian menjaga alam semesta. Sehingga tidaklah patut bagi seseorang untuk berbuat syirik dengan menyembah selain Allah. Ketika anak hendak menempuh ujian, Bunda janganlah mengajak anak pergi ke _kyai. Tetapi, ajaklah anak banyak berdoa memohon lulus ujian kepada-Nya sambil memotivasi anak agar serius belajar. Sehingga anak akan menggantungkan harapannya hanya kepada Nya semata sambil tetap berikhtiar.

 

(3) Berbuat baik kepada orang tua.


Allah ta’ala berfirman, “Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya…” (QS Luqman:14-15)

Orang tua hendaknya mendidik anak agar mau berbuat baik atau berbakti kepada orang tuanya. Anak yang berbakti identik dengan anak yang terbiasa mematuhi perintah orang tuanya selama perintah orang tuanya tidak menyuruhnya berbuat maksiat atau melanggar syariat-Nya. Bunda juga perlu memberikan pemahaman kepada anak bahwa ibunya telah mengandungnya sembilan bulan lebih dalam keadaan lemah, merasakan sakit yang hebat dan mempertaruhkan nyawa. Sedangkan ayah bekerja untuk menafkahi keluarganya. Sehingga seorang anak semestinya berbuat baik kepada ayah ibunya, yaitu dengan berkata lemah lembut dan tidak berlaku kasar. Sekalipun orangtuanya kafir. Sebab orang tualah yang merawatnya hingga dewasa. Berbakti kepada orang tua juga merupakan bentuk pengabdian kepada Allah azza wa jalla.

 

(4) Menegakkan salat.


Allah ta’ala berfirman, “Wahai anakku! Laksanakan salat.. (QS Luqman:17)
Bunda hendaknya memahami tata cara salat yang benar sebagaimana contoh dari Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Sehingga Bunda bisa mengajarkan tata cara salat yang benar kepada anak. Bunda juga perlu menegakkan salat wajib awal waktu tepat waktu. Sehingga anak berusaha menegakkan salat wajib awal waktu tepat waktu. Misalnya, ketika sedang memasak di dapur Bunda mendengar adzan berkumandang. Maka seketika itu juga bunda harus meninggalkan dapur dan bergegas ke tempat salat. Setelah salat Bunda bisa melanjutkan pekerjaannya. Ketika anak bertanya kenapa kita lebih mengutamakan salat wajib? Maka jawablah karena kita ingin disayang Allah.

 

(5) Tidak meremehkan perbuatan sekecil apapun. 

Allah ta’ala berfirman,Wahai anakku. Sungguh jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti. (QS Luqman:16)

Orang tua hendaknya mendidik anak agar tidak meremehkan perbuatan sekecil apapun. Misalnya menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya atau menyimpan sampah di dalam tas kalau tak menemukan tong sampah. Kemudian membuangnya ke tempat sampah. Semua amal saleh itu hendaknya kita lakukan untuk meraih keridhaan Allah saja.

 

(6) Beramar ma’ruf nahi mungkar.


Alllah ta’ala berfirman, “Wahai anakku! Laksanakan salat, dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar…”(QS Luqman:17)

Orang tua hendaknya mengajak anak beramar ma’ruf nahi mungkar atau berbuat baik dan mencegah kemungkaran misalnya mengajak anak untuk mematuhi protokol kesehatan, bersedekah ke kerabat dekat yang kurang mampu. Dan menghindari perbuatan yang mungkar, misalnya, menghindari kerumunan, memakai barang orang lain tanpa izin, sekalipun barang orang lain itu milik saudaranya sendiri. Semua kebaikan itu hanya untuk mengharapkan wajah Allah saja.

 

(7) Bersabar.


Allah ta’ala berfirman, “.. bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS Luqman:17) 

Orang tua hendaknya mendidik anak agar bersabar menjalani hidup. Tentu saja dengan memberinya contoh. Apabila orang tua terbiasa menunjukkan sikap sabar dan mengucap kalimat istirja’ innalillahi wa Inna ilaihi rojiun ketika terkena musibah maka demikian pula anak. Ia akan melakukan hal yang sama, yaitu bersabar dan mengucapkan kalimat istirja’ pada saat ditimpa musibah. Sebab bagaimana mungkin anak bisa belajar sabar. Sedangkan bundanya sendiri sering tak sabar. Kalau anak terlanjur marah-marah karena ada temannya yang memakai mainannya tanpa izinnya maka ucapkanlah “Laa taghdob wa lakal Jannah” Artinya, janganlah marah, bagimu surga.” Semua perbuatan itu hendaknya kita lakukan hanya untuk meraih rida-Nya semata.

 

(8) Tidak sombong dan angkuh.


Allah ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia ( karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.”(QS Luqman:18)
Ayat itu mengajarkan bahwa orang tua hendaknya memberikan contoh perbuatan yang menunjukkan kerendahan hati. Sebab kalau kita sampai berlaku sombong maka jangankan memasuki surga, mencium bau surga pun tidak. Jadi meskipun Ayah mempunyai kedudukan yang tinggi misalnya menjadi direktur utama di sebuah perusahaan tetapi Ayah tidak sombong atau tidak suka merendahkan orang lain yang status sosialnya lebih rendah seperti pembantu rumah tangga dan Bunda tidak suka pamer kekayaannya alias ‘flexing’. Sehingga anak pun akan berusaha bersikap rendah hati dan tidak suka pamer ketika orang tuanya menduduki jabatan tinggi dan kaya raya. Anak juga tidak akan merendahkan pembantu yang ada di rumahnya. Semua perbuatan itu hendaknya kita lakukan untuk meraih rida-Nya semata.

 

(9) Sederhana dan bertutur kata lembut.


Allah ta’ala berfirman, “Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suatu keledai.”(QS Luqman:19)
Bunda hendaknya mendidik anak agar hidup sederhana terutama sederhana dalam berpenampilan, berpakaian dan berkendaraan. Sungguh Bunda akan beruntung jika bisa membiasakan anak untuk hidup sederhana. Kelak setelah dewasa ia akan mampu bertahan hidup dalam setiap keadaan. Ketika Allah ta’ala menakdirkan miskin ia bisa bersabar dan tak meminta-minta. Ketika Allah menakdirkan kaya ia mampu bersyukur dan mau menyisihkan sebagian rezekinya untuk orang yang membutuhkannya. Bunda juga hendaknya bertutur kata lembut atau melunakkan suara ketika berbicara dengan suami. Sehingga anak pun akan berbuat demikian ketika ia berhubungan dengan orang lain. Semua perbuatan itu hanya kita lakukan untuk meraih ridha-Nya semata

Demikian, pelajaran yang bisa kita petik dari nasihat Luqman kepada anaknya. Semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk mengamalkannya. Sehingga anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang berilmu lagi berakhlak mulia.

 

Bondowoso, 30 Juni 2023.

Biodata Narasi

Abdisita Sandhyasosi. Alumni psikologi Unair. Pernah ngajar di PP Al-Ishlah Bondowoso. Ibu lima anak. Tinggal di Bondowoso. Pernah aktif di Blog Kompasiana. Penulis buku solo “5 Kunci Sukses Hidup” (Tinta Medina, 2017) dan sejumlah buku antologi Quantum Belajar (Genius Media,2016), Mata Air Pesantren (Genius Media, 2016), Aku, Buku dan Membaca (Akademia Pustaka, 2017), Perempuan Dalam Pusaran Kehidupan (Diandra, 2018), Gaya Hidup Di Era Pandemi Covid-19 (Sahabat Pena Kita, 2021) Titik Balik Menuju Cahaya (Sahabat Pena Kita, 2021), Inspirasi Menulis dan Menerbitkan Buku (Oase, 2021) Profesor Ngainun Naim (Sahabat Pena Kita, 2022)i. Email: hamdanummu27@gmail.com

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here