Belajar dari Pahlawan Nasional Marsekal Madya TNI Abdul Halim Perdanakusuma

0
667

Pada hari Rabu 1 November 2023, menjelang peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November, Akademi Hikmah menyelenggarakan Kuliah Subuh Online Belajar dari Para Pejuang Bangsa episode ke-100, membahas salah seorang pahlawan nasional, bertajuk Abdul Halim Perdanakusuma, Pemuda Madura Penguasa Udasra. Menghadirkan tiga narasumber akademisi, Prof. Dr. Khairil Anwar, Guru Besar FMIPA Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. M. Mukhsin Jamil, M.Ag, Guru Besar Ilmu Pemikiran Islam UIN Semarang, dan penulis Prof. Dr. Muhammad Chirzin, Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga.

Kuliah Subuh dibuka oleh Dr. Syamsudin diiringi lantunan doa oleh Ustadz Bambang Haryanto, dan lagu Indonesia Raya. Kata pengantar disampaikan oleh Dr. Khamim Zarkasih, dengan host Ustadz Mahlani, S.Ag., M.Pd., dan moderator Dr. Titi Rokhayati, M.Pd.

Apresiasi penulis kepada penyelenggara untuk dua hal. Pertama, Akademi Hikmah telah menyelenggarakan Kuliah Subuh Online hingga episode ke-100 ini. Kedua, Akademi Hikmah telah memilih pahlawan nasional fenomenal menyongsong peringatan Hari Pahlawan Nasional.

Ketika seseorang turun dari pesawat di bandara Halim Perdanakusuma, dan memasuki gedung, maka ia akan menjumpai foto dalam ukuran besar dengan keterangan: Abdul Halim Perdanakusuma. Dialah tokoh yang dikaji pada kuliah subuh ini.

Marsekal Madya TNI (Anumerta) Abdul Halim Perdanakusuma (18 November 1922-14 Desember 1947 – 25 th) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia meninggal dunia saat menjalankan tugas semasa perang Indonesia – Belanda di Sumatra, ketika ditugaskan membeli dan mengangkut perlengkapan senjata dengan pesawat terbang dari Thailand.

Abdul Halim dilahirkan di Sampang Madura pada 18 November 1922. Setelah lulus dari SD dan SMP serta SMA untuk pribumi Indonesia ia melanjutkan studi di sekolah pamongpraja di Magelang untuk menjadi pegawai pemerintahan.

Pada tahun kedua Abdul Halim memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan Akademi Angkatan Laut di Surabaya sebagai tentara Hindia Belanda. Setelah menamatkan pendidikan di akademi tersebut, Abdul Halim sempat bergabung dengan tentara KNIL di bagian penerangan.

Selama Perang Dunia II Abdul Halim bertugas di Royal Canadian Air Foerce dan Royal Air Force sebagai Navigator dengan pangkat Wing Commander dan bertugas di skadron pengebom pesawat Lancaster dan B-24 Liberator. Ia telah menjalankan 44 misi pengeboman di seluruh Eropa.

Setelah Perang Dunia II Abdul Halim kembali ke Indonesia. Saat itu ia masih tergabung dengan Dinas Penerbangan Angkatan Laut Belanda, tetapi ia lebih memilih bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat di Jawatan Penerbangan dan menjalankan beberapa misi sampai ia gugur dalam tugas.

Semasa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Belanda di Sumatra pada tahun 1948, Abdul Halim Perdanakusuma bersama Iswahjoedi ditugaskan membeli perlengkapan senjata di Thailand. Keduanya ditugaskan dengan pesawat terbang multifungsi Avro Anson RI-003. Pesawat terbang tersebut dipenuhi dengan berbagai senjata api, di antaranya karabin, bren gun, pistol, dan granat tangan.

Dalam perjalanan pulang pesawat terbang tersebut jatuh, karena cuaca buruk. Bangkai pesawat terbang ditemukan di sebuah hutan dekat kota Lumut, Perak, Malaysia, yang pada waktu itu masih di bawah penjajahan Inggris bernama Uni Malaya. Tim penyelamat hanya menemukan jasad Abdul Halim, sementara jasad Iswahjoedi tidak ditemukan, dan hingga sekarang tidak diketahui nasibnya. Begitu juga dengan berbagai perlengkapan senjata api yang mereka beli di Thailand.

Jasad Abdul Halim sempat dikebumikan di kampung Gunung Mesah, tidak jauh dari Perak, Malaysia. Di sana banyak bermukim penduduk keturunan Sumatra. Beberapa tahun kemudian, kuburan Halim digali dan jasadnya dibawa ke Jakarta untuk dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Pemerintah Indonesia memberikan penghormatan atas jasa dan perjuangan Abdul Halim, dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan mengabadikan namanya pada Bandar Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta. Pemerintah juga mengabadikan namanya pada kapal perang KRI Abdul Halim Perdanakusuma.

Bandar Udara Halim Perdanakusuma menjadi dasar penamaan beberapa lokasi, seperti Kelurahan Halim Perdanakusuma yang menjadi lokasi bandar udara tersebut dan kompleks Stasiun Halim yang berada di utaranya.

Menutup presentasi tentang Marsekal Madya TNI Abdul Halim Perdanakusuma Prof. Khairil Anwar menyampaikan hikmah kepahlawanan Abdul Halim Perdanakusuma. Pertama, ketekunan dalam pendidikan. Kedua, kecintaan pada profesi. Ketiga, usia muda tidak menghalangi untuk berjuang. Keempat, kejuangan yang tinggi di saat Republik baru merdeka. Kelima, kecintaan pada bangsa dan negara.

Penulis menambahkan catatan sebagai berikut. Pertama, bahwa penyelenggaraan pendidikan pada masa penjajahan Belanda, baik pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi telah menunjukkan mutu dan hasilnya. Pendidikan yang dimaksud secara langsung maupun tidak langsung telah menumbuhkan etos belajar dan etos berjuang, serta kerelaan mengorbankan harta, jiwa, dan raga pada figur Abdul Halim Perdanakusuma dan para pahlawan Indonesia.

Kedua, pendidikan penerbangan pada zaman penjajahan perlu dilestarikan dan ditingkatkan, agar dapat menghasilkan para penerbang yang terampil dan berkepribadian luhur, dan ikhtiar pembangunan teknologi kedirgantaraan melalui pabrik pesawat terbang Nurtanio patut diaktifkan kembali untuk kepentingan dan kemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi bangsa Indonesia.

Ketiga, perlu peninjauan kembali dan evaluasi arah pendidikan nasional kita secara menyeluruh, agar Pendidikan nasional Indonesia menghasilkan para pendidik dan peserta didik yang berkualitas. Disinyalir bahwa Mendikbud saat ini dinilai paling buruk sepanjang sejarah NKRI. Pengalaman pasca Perang Dunia II, setelah Jepang luluh lantak, kaisar Hirohito membangun kembali Jepang dengan sejumlah guru yang tersisa, bukan dengan mengandalkan alat-alat perang atau lain-lainnya.

Pada era modern, negara-negara maju, termasuk Jepang, Korea, dan Cina mengambil alih kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari seluruh penjuru dunia dengan melakukan penerjemahan karya-karya dan menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak bangsa dengan sebaik-baiknya.

Bangsa Indonesia niscaya mewaspadai kemungkinan adanya pihak-pihak yang berusaha menghambat kemajuan bangsa Indonesia, supaya tetap bisa dijajah secara ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya.

*Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penulis 64-an buku.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here