Jajanan Khas Dan Kesan Kopdar Ke X SPK Di Unesa

0
222

Oleh : Naphan Fathoni Aziz

 

Kopdar ke X Sahabat Pena Kita merupakan momentum istimewa yang digelar pada Sabtu,9 September 2023 di Unesa. Istimewa merupakan situasi yang penulis gambarkan karena banyak sajian pengetahuan,keterampilan bisa dinikmati walaupun hanya lewat media zoom meeting. Penulis hanya menikmati berbagai sajian wawasan tentang kepenulisan lewat dunia maya  karena ada tugas kerja di wilayah Nganjuk yang harus diselesaikan.

 

Kehadiran lewat zoom meeting tidak mengurangi antusias penulis untuk selalu menebarkan virus literasi. Virus literasi disebarkan banyak tokoh hebat dalam forum Kopdar X SPK. Diantaranya ada Dr.Much.Khoiri,M.Si. yang familiar disebut Dr.Emcho selalu memotivasi para anggota SPK untuk komitmen dalam merawat budaya menulis.

 

Penulis memberikan banyak catatan inspiratif tentang kepenulisan sebagai jajanan khas Kopdar X SPK. Saya sebut sebagai jajanan khas karena bisa dinikmati oleh masyarakat yang berkenan. Walaupun bukan berupa makanan dan benda ekonomis namun manfaatnya bisa diakses oleh banyak orang.

 

Pertama, catatan penulis untuk dunia literasi harus ditopang kuat dengan komitmen disiplin menulis. Menulis dengan disiplin emang hal yang tidak mudah. diri manusia harus dipaksa untuk menyetorkan tulisan sesuai waktu yang telah ditargetkan. Jika budaya disiplin menulis sudah terbangun kuat maka memproduksi karya tulis setebal apapun sangat mudah diwujudkan.

 

Kedua,catatan penulis untuk merawat kelembagaan komunitas literasi. Sebagaimana ditegaskan oleh Pak Emcho pada Kopdar X SPK,bahwa untuk kehadiran anggota dalam Kopdar harus didisiplinkan. Penulis mengambil hikmah dari motivasi Pak Emcho,sesibuk apapun kita harus mendarmabaktikan waktu,tenaga,pikiran untuk keberlangsungan komunitas literasi kita. Komunitas literasi yang kuat akan menjadi wadah yang selalu mengedukasi masyarakat dengan habitus melek aksara.

 

Ketiga, catatan penulis untuk penguatan lembaga literasi harus didasari dengan beragam kreativitas khususnya pengaktifan kreasi-kreasi di media sosial. Banyak masyarakat kita yang saat ini mengkonsumsi media sosial (Ig,FB,Twitter,tiktok) untuk memenuhi hajat hidupnya. Termasuk menikmati berbagai teks,gambar,animasi,musik yang dimunculkan oleh berbagai komunitas. Sahabat Pena Kita yang selalu inovatif menampilkan berbagai konten kreasi pada media sosialnya akan mengedukasi masyarakat untuk melek aksara. Lebih dari itu masyarakat berpotensi menjadi support sistem bagi kebesaran dan kejayaan SPK tercinta.

Penulis juga memberikan catatan kesan tentang Kopdar SPK Ke-X. Keunikan dari Kopdar SPK ini merupakan suatu wahana untuk menjalin silaturahmi antar anggota sekaligus menempa kualitas diri para penulis. Penulis pemula maupun penulis senior memiliki kesempatan satu forum untuk duduk bersama saling sharing dan mengedukasi seputar literasi. Forum saling berbagi tentang literasi tersebut,jika para penulis sudah pulang dari forum akan diikat menjadi tulisan-tulisan beragam. Ragam tulisan dari para penulis, jika disebarluaskan akan menyadarkan masyarakat kita untuk membudayakan literasi.

Penulis berpijak pada konsep kesadaran yang digagas oleh Paulo Freire tentang level kesadaran. Freire merupakan tokoh Pendidikan berkelahiran Brazil,yang memiliki pemikiran-pemikiran besar dalam dunia Pendidikan. Sisi-sisi lain dari Freire,selain memiliki sumbangan dalam dunia Pendidikan,beliau juga memiliki kontribusi pemikiran dalam disiplin ilmu psikologi. Bagaimana tidak berkontribusi?,Freire mengkategorikan beberapa konsep kesadaran dalam diri manusia. Berangkat dari kesadaran yang terus dilatih dalam diri manusia diharapkan manusia mampu menjadi aktor yang berkontribusi menata dan membangun sistem sosial kemasyarakatan.

Pertama, menurut Freire level kesadaran magic yang berlangsung dalam diri manusia. Kesadaran ini memberikan persepsi pada empunya bahwa setiap peristiwa terjadi karena kehendak Tuhan dan kehendak alam semesta. Sehingga spirit,kesadaran dalam diri manusia untuk melakukan perubahan sosial dan penataan sistem sosial tidak ada,itulah level kesadaran yang paling rendah menurut Freire.

Konteks kesadaran magic tersebut jika penulis refleksikan dalam dunia literasi,masyarakat menyadari kalau kerendahan budaya literasi yang menimpa dirinya itu karena kehendak Tuhan dan disebabkan oleh factor genetic.

Kedua, level kesadaran menurut Freire yakni kesadaran naif, yang mana manusia memandang suatu peristiwa terjadi karena disebabkan oleh tindakan atau ulah orang-orang disekitarnya. Sudah lebih baik level ini daripada kesadaran yang pertama. Level kesadaran ini merupakan transisi manusia dari kesadaran sebelumnya. Sangat sayangkan pada level kesadaran naif ini, menyadari kalau akar permasalahan terletak pada manusia, namun dia tidak mengetahui cara mengerjakan dan menyelesaikan masalahnya.

Jika digambarkan pada kehidupan masyarakat,misal ada orang-orang yang lemah budaya literasinya, untuk mengawali tradisi literasi dari diri,keluarganya tidak berani. Apalagi mereka membentuk komunitas literasi,sangat mustahil untuk memberanikan diri. Sudut pandang penulis terhadap fenomena tersebut,harus menaikkan level sampai pada tahap kesadaran kritis.

Ketiga, level kesadaran kritis menurut Freire. Pada level tersebut manusia memposisikan setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat pasti ada latar belakang sosio-politiknya. Masyarakat pada tahap kesadaran kritis melihat bahwa sistem social, struktur sosial sebagai akar permasalahan. Masyarakat yang berkesadaran kritis akan memulai dari diri,keluarganya untuk mengurangi dan menyelesaikan masalah yang terjadi. Lebih massif lagi masyarakat mengorganisir diri menjadi komunitas,kelompok organisasi untuk menjawab setiap permasalahn yang ada.

Apabila diilustrasikan pada tatanan masyarakat yang rendah akan kualitas literasinya, maka setiap individu,kelompok memberanikan diri untuk merubah sistem menjadi kehidupan sosial yang tinggi budaya literasinya. Bahkan secara sadar dan terorganisir masyarakat membentuk komunitas/organisasi literasi untuk membudayakan melek aksara dan melek sistem,struktur sosial.

Sahabat Pena Kita (SPK) merupakan organisasi literasi yang memiliki legal formal berbadan hukum. Bukan hanya kondisi formalnya saja yang penulis soroti, tapi peran besarnya dalam tatanan kehidupan masyarakat untuk terus mengedukasi, memotivasi, membumikan virus melek aksara. Sudah banyak orang-orang yang dilatih lewat SPK kemudian menebar tulisan-tulisannya yang inspiratif dan produktif untuk masyarakat luas. Budaya konsisten untuk menyetorkan beragam tulisan, tulisan yang bervarian gayanya merupakan peran SPK untuk terus mengedukasi para anggota untuk tidak melepaskan tradisi baca tulis. Budaya menampilkan beragam tulisan para anggota pada media SPK merupakan peran nyata SPK untuk terus memotivasi para pegiat literasi dan masyarakat luas dalam berkompetisi memproduksi ragam tulisan dengan beraneka gaya. SPK pada kopdarnya yang ke X tersebut,selalu mendorong para anggotanya untuk selalu share tulisan inspiratifnya kepada orang-orang di sekitarnya. Hal tersebut membuktikan SPK selalu menjadi agen yang senantiasa membumikan karyanya dan inspirasi-inspirasi besar bagi kehidupan bermasyarakat,berbangsa,bernegara.

Salam Literasi.

Nganjuk,13 September 2023

 

Bacaan Pendukung :

Aridlah Sendy Robikhah. (2018). Paradigma Pendidikan Pembebasan Paulo Freire Dalam Konteks Pendidikan Agama Islam,IQ:Jurnal Pendidikan IslamVolume I, No.01, 1-15.

https://youtu.be/kr_oTzSxtb8?si=c26lzySHSe_hj4pl, diakses 12 September 2023.

https://youtu.be/kr_oTzSxtb8?si=c26lzySHSe_hj4pl,diakses 12 September 2023.

Moh. Zaini, “Esensi Spirit Pendidikan Islam Dalam Konsep Pemikiran Paulo Freire.”

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here