Kopdar ke-10, Mendefinifkan Nahkoda

0
177

Oleh Agus Hariono

Sebagaimana rutin digelar enam bulanan, Kopdar SPK ke-10 dilaksanakan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Lokasi ini ditentukan secara cepat. Penentuan tempat biasanya tidak mudah. Apalagi kalau di daerah tersebut hanya terdapat satu anggota. Tetapi kali ini mudah saja. Ada dua pentolan SPK yang bercokol di kampus ini. Yaitu Plt. Ketua SPK, Hitta Alfi Muhimmah, biasa disebut Mbak Hitta dan Much. Khoiri, biasa disebut Master Emcho yang saat telah menyandang gelar doktor.

Seolah menjadi tempat favorit. Tempat ini setidaknya sudah tiga kali digunakan untuk gawe Sahabat Pena Nusantara (SPN) maupun Sahabat Pena Kita (SPK). Pertama, Kopdar ke-V SPN. Kedua, Transisi pergantian nama dari SPN menjadi SPK. Dan, ketiga, Kopdar ke-10 kali ini. Kiranya memang kampus menjadi tempat paling strategis dalam setiap Kopdar. Karena rata-rata Kopdar sejak SPN dulu hingga sekarang 90 persen bertempat di kampus.

Untuk memenuhi hajad Kopdar setidaknya butuh ruang untuk seminar dan ruang untuk Kopdar bagi keluarga besar SPK. Biasanya yang memiliki ruangan tersebut adalah lembaga pendidikan baik sekolah maupun kampus. Sehingga wajar jika berhitung kebutuhan ruangan, sekolah atau kampus menjadi pilihan utama.

Kopdar: Numpang Rekreasi Keluarga

Dalam setiap Kopdar saya tidak pernah hadir sendirian. Saya selalu mengajak keluarga. Kalau dulu masih berdua, ya ke mana-mana berdua. Sekarang ketika sudah bertiga, ya minimal ke mana-mana bertiga. Bahkan sering dalam berbagai kegiatan pasukan yang ikut jauh lebih banyak. Seperti pada Kopdar kali ini, setidaknya ada enam orang yang turut hadir.

Mereka semua ikut karena tertarik dengan narasumbernya. Mereka memang bukan penulis. Tetapi suka dengan berita tentang novel atau film Hati Suhita. Memang belum memiliki buku atau pernah nonton filmnya, tapi obrolan tentang novel maupun film Hati Suhita sudah di luar kepala. Salah satu Narasumbernya inilah yang menarik mereka untuk ngeyel ikut Kopdar kali ini.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya angkut mereka menuju Unesa. Awalnya memang saya hanya memberitakan ikhwal Kopdar ini, tidak mengajaknya, karena rencananya kami akan berangkat dan pulang mengedarai kereta api. Setelah mengecek di aplikasi pemesanan tiket, ternyata jadwal berangkat dan pulangnya tidak ada yang sesuai dengan harapan kami. Alhasil kami memutuskan untuk naik mobil.

Saya beri kabar kepada pasukan yang sudah ngeyel untuk ikut tersebut, agar bersiap sejak pagi, karena acaranya mulai pagi hari. Jelang hari H saya mengingatkan agar bersiap sejak pagi. “Tolong setelah subuh sudah bersiap, rencana pukul 06.00 WIB kita meluncur ke Surabaya via tol,” tulis saya dalam grup. Tapi tak terduga sudah pukul 07.00 WIB lebih ternyata pasukan belum 100 persen siap. Masih dengan kesibukan masing-masing ini dan itu. Kami baru dapat berangkat pukul 07.30 WIB. Dipastikan akan tiba di lokasi ketika acara sudah berlangsung. Karena setelah turun tol, akses menuju lokasi acara biasanya lalu lintas padat merapat.

Benar saja. Tiba di lokasi acara dimulai. Kami masuk ruangan narasumber sudah mulai menyampaikan. Saya tidak langsung menyapa para pengurus SPK karena memang terlambat. Saya dan rombongan duduk di barisan paling belakang. Bersebelahan dengan rombongan dari SPK Tulungagung. Semua menyimak pemaparan para narasumber dengan seksama. Dan tiba pada tujuan utama yaitu berfoto bareng narasumber, yaitu Ning Khilma Anis.

Memang harus sedikit sabar untuk mengantre, karena memang peserta yang lain juga tenyata tidak cukup hanya sekali dua kali jepret, juga tidak cukup hanya satu kali gaya. Maka, menunggunya pun juga butuh kesabaran. Meski demikian tidak terlalu lama, tiba giliran untuk berfoto dengan Ning Khilma. Dengan dua kali gaya sudah cukup buat oleh-oleh dari Kopdar kali ini. Selanjutnya, saya mengikuti Kopdar SPK, sementara para pasukan melanjutnya misinya yaitu rekreasi.

Seminar Literasi

Dalam seminar literasi yang diselenggarakan oleh SPK selalu ada yang baru. Karena memang pemateri dalam setiap Kopdar pasti berbeda-beda. Baik latar belakang, genre tulisan, prefesin dan domisilinya. Sehingga pengalaman apa yang mereka sampaikan pasti mengandung kebaruan, khususnya bagi saya.

Seminar Literasi pada Kopdar 10 ini menghadirkan dua narasumber handal di bidangnya. Pertama, Khilma Anis, penulis novel kondang, Hati Suhita. Kedua, Much. Khoiri, Dosen, penulis, editor dan segundang jabatan akademik serta pengalaman menulis, sekaligus dewan pembinan SPK. Dua narasumber ini tentu akan sangat lihai dalam membolak-baliknya hati para penulis mula maupun lanjutan, bahkan profesional.

Dari penyampaikan keduanya jelas memiliki hembusan motivasi yang beda, meski masih serumpun. Narasumber pertama, Ning Khilma, dari pengalamannya dalam menerbitkan novel hingga difilmkan, memiliki perjalanan yang cukup dramatis. Misalnya, pada saat ramai-ramainya tulisannya yang diunggah dimedsos tersebut ditunggu para pembacanya, lalu tiba-tiba ada orang yang tidak bertanggung jawab menuduh bahwa tulisannya itu merupakan copy paste. Menjiprak tulisan orang. Memposting tulisan orang. Bukan asli tulisan Ning Khilma. Dan, berbagai tuduhan lainnya.

Dilanjut dengan menyampaikan keberhasilannya dari tuduhan tersebut dengan menuangkan kelanjutan dan kelangkapan novel tersebut dalam bentuk buku. Tidak disangka justru setelah terbit buku tersebut menjadi buku mega best seller. Sampai ada produser yang menawar untuk diangkat dalam bentuk film. Belum lagi efek domino yang dipancarkan dari dinamika novel Hati Suhita. Misalnya, mendapat royalty besar dari penjualan buku. Ketika sudah difilmkan mendapat rolyalti yang melimpah, bahkan dapat digunakan untuk membeli tanah berhektar-hektar. Nama yang sudah terlanjur populer dan terkenal tersebut justru mampu membuka peluang usaha yang lebih luas, dan lain sebagainya.

Apa yang disampaikan Ning Khilma tentu saja tidak hanya sekadar menulis. Lebih dari itu ternyata menulis dapat berdampak pada berbagai hal. Khususnya secara sosial maupun ekonomi. Novel tersebut mampu menggerakan roda ekonomi keluarga, ekonomi pesantren, dan tentu saja pihak-pihak yang terlibat dapak novel Hati Suhita.

Ini merupakan dorongan yang kuat bagi siapa saya yang menulis. Bukti bahwa dampak tulisan tidak hanya liner, monoton atau pun searah, namun dapat multiarah atau multidirectional. Sehingga dapat memuncul multipurpose bagi seorang penulis. Menulis dapat menggerakan sosial, menulis dapat menggerakan ekonomi, menulis dapat meningkatkan karier, menulis dapat menjadikan populer-terkenal dan berbagai tujuan lainnya.

Dilengkapi dengan narasumber yang kedua, yaitu doktor Much. Khoiri. Seorang pakar menulis yang sudah menelurkan puluhan buku. Dia menyampaikan ikhwal menulis dari tinjauan praksis dan teoritis. Cocok, karena memang seorang akademisi. Seingga tidak kalah dengan narasumber yang pertama. Keberhasilan nasumber pertama pada popularitas karyanya, sedang narasumber kedua pada karienya menulisnya. Keduanya merupakan inspirasi, model atau prototype penulis yang berhasil.

Mendefinitifkan Nahkoda

Selain seminar literasi, agenda wajib Kopdar adalah membahas rumah tangga SPK, baik pusat maupun cabang. Bagi SPK cabang mereka harus melaporkan perkembangan SPK di cabang. Baik pencapaian keberhasilan maupun kendala yang dialami, untuk selanjutkan dicarikan solusi terbaiknya. Saat ini hanya tinggal dua cabang yang masih hidup yaitu SPK Cabang Tulungagung dan SPK Cabang Semarang, lainnya belum terkabarkan karena kesibuka pengurusnya.

Selanjutnya SPK Pusat yang masih memiliki PR soal kepastian pemimpin utamanya. Semenjak ditinggal sakit sang ketua terpilih SPK, Agung Nugroho CS.—hasil musyarah pada Kopdar ke-8 di Bondowoso—kepemimpinan utama alias ketua dipelaksanatugaskan kepada pemenang urutan kedua yaitu Hitta Alfi Muhimmah, perjalanan SPK sedikit mengalami ketidakpastian.

Meskipun SPK belum memiliki AD ART yang sah sebagai dasar dan panduan dalam menjalankan organisasi, akan tetapi secara umum masa sebagai pelaksana tugas terbatas, kewenangan sebagai pelaksana tugas juga kurang jelas, sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum. Plt. Ketua terlihat agak ragu dalam memutus maupun melaksanakan program. Tentu untuk organisasi, kodisi ini kurang sehat. Apalagi basis kegiatan organisasi ini daring atau online.

Pada Kopdar ke-10 ini salah satu agenda utamanya adalah memberikan kepastian hukum kepada nahkoda utama. Tujuannya ada lebih leluasa dalam menjalankan roda organisasi. Secara kewenanga, dapat menggunakan kewenangan sebagaimana ketua-ketua pada organisasi yang lain. Oleh kerena itu, pada Kopdar kali ini, Pembina, pengurus dan peserta Kopdar sepakat untuk mendefinitifkan Plt. Ketua, Hitta Alfi Muhimmah sebagai Ketua Sahabat Pena Kita (SPK) Periode 2023-2025. Teriring doa dan harapan semoga SPK ke depan semakin maju, berkembang dan berkualitas.

Tempursari, 7 Oktober 2023

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here