Menulis Hanya karena Berharap Imbalan, Ternyata Sangat Melelahkan

0
233

Oleh : Ahmad Tri Sofyan

Ilmu itu ibarat hewan buruan dan tulisan adalah tali kekangnya. (Ali bin Abi Thalib)

Pesan dari Ali bin Abi Thalib ini semakin menguatkan saya untuk menuliskan berbagai hal yang bermanfaat. Ya berbagai hal atau ilmu yang kiranya jika tidak ditulis maka akan bisa terlupakan. Bagi saya pribadi, pesan tersebut bermakna bahwa saat saya mendapatkan ilmu baru sebisa mungkin untuk mencatatnya agar ilmu tersebut mudah dipelajari Kembali. Makna yang kedua yaitu saya seolah memiliki kewajiban untuk mengabadikan dan membagikan ilmu yang dimiliki kepada orang lain melalui tulisan. Itu makna yang saya pahami  dan menjadi hal yang memotivasi untuk terus berkarya melalui tulisan. Jika Anda memiliki pemaknaan yang berbeda dengan saya terkait perkataan Ali bin Abi Thalib tersebut tentu sah-sah saja.

Bagi saya, menulis kadang terasa begitu mudah dan mengalir, tapi di lain waktu seolah tidak bisa mengeluarkan kata-kata melalui tulisan yang mengalir. Hal ini barangkali tidak berlaku bagi penulis profesional yang sudah memiliki jam terbang tinggi. Saya yang masih pemula dan belum banyak menghasilkan karya, mood untuk menulis kadang masih naik turun. Pernah suatu waktu dalam beberapa bulan saya menulis secara rutin, tapi itu terjadi karena tuntutan pekerjaan dan jika saya berhenti menulis atau tidak disiplin, maka saya akan terkena teguran dari orang yang memberikan proyek tulisan kepada saya.

Jangan ditanya bagaimana rasanya menulis by orderan atau menulis karena mendapat pesanan dan temanya sesuai yang dikendaki pemesan. Meski pekerjaan ini bukan hal yang saya lakukan karena terpaksa, tapi rasanya tetap beda antara menulis untuk berbagi ilmu dengan menulis karena untuk memenuhi kewajiban dari pemberi order tulisan. Rasa nikmat saat proses menulisnya, tentu saja tidak senikmat saat tulisan sudah jadi dan menerima bayaran dari pemberi order. Hahaha.

Debut menulis saya sebetulnya berawal sekira tahun 2011. Saat itu di surat kabar Kedaulatan Rakyat ada sebuah iklan bahwa ada suatu penerbit buku di Yogyakarta sedang mencari naskah buku Kumpulan soal-soal Pelajaran. Salah satu naskah yang dibutuhkan yaitu Kumpulan soal PAI untuk kelas 4,5,6 SD. Melihat iklan itu saya tertarik dan akhirnya memasukkan lamaran beserta contoh naskahnya. Beberapa waktu kemudian saya dihubungi oleh penerbit dan diberi informasi bahwa lamaran saya diterima dan diminta untuk melengkapi naskhanya. Saat itu rasanya senang bukan kepalang, karena pengalaman pertama mengajukan naskah ke penerbit mayor dan langsung disetujui. Sungguh anugerah yang sangat besar dari Allah.

Hari demi hari saya jalani dengan penuh semangat untuk menulis dan menyelesaikan naskah. Saat itu internet belum semasif sekarang. Hampir setiap hari saya ke warnet untuk menulis sekaligus mencari jaringan internet. Alhamdulillah setelah melalui perjuangan yang cukup menguras energi, naskah buku secara lengkap akhirnya selesai dan saya kirimkan ke penerbit. Setelah dikoreksi tim redaktur penerbit dan ada beberapa revisian, saya perbaiki kembali dan akhirnya buku siap dicetak.

Mendapatkan bayaran pertama dari menulis buku membuat saya semakin keranjingan untuk menulis. Apalagi, bayaran buku pertama saat itu saya gunakan untuk membeli laptop sehingga semakin memotivasi dan memudahkan untuk menulis. Apakah hanya karena ada bayaran atau upah berupa materi dari menulis buku sehingga semangat untuk menulis? Tidak dipungkirii, bahwa saya juga berharap mendapatlan imbalan materi dari tulisan yang saya buat. Akan tetapi saat itu saya juga berpikir untuk sedikit demi sedikit mengumpulkan portofolio berupa karya tulisan dan menyebarkan sedikit ilmu yang dimiliki melalui tulisan.

Belakangan saya semakin merasakan bahwa apabila menulis hanya karena ingin mendapat imbalan materi, maka prosesnya akan terasa sangat melelahkan. Hal ini saya rasakan saat ada kesempatan menulis dengan tema tertentu yang sebetulnya saya kurang menguasai, tapi karena ada imbalan uang yang akan didapatkan akhirnya saya ikuti juga. saya berusaha menyelesaikannya meskipun dalam kondisi pikiran dan hati yang kurang bisa menikmati dan terasa sangat melelahkan.

Saat ini, motivasi terbesar saya dalam menulis diantaranya mengharapkan ridho Allah melalui ilmu yang saya sebarkan melalui tulisan; menulis membuat saya terdorong untuk terus memperkaya bahan bacaan dan belajar tiada henti; berkumpul dengan orang-orang yang satu visi dalam sebuah komunitas penulis; meninggalkan warisan berupa buku dan tulisan blog atau web; dan berharap rezeki yang halal dari aktivitas menulis.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here