Merdeka Dedikasi Literasi

0
182

Oleh: Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

Pikiran adalah kekuatan yang sangat efektif. Kemuliaan manusia terletak pada pikiran, melampaui naluri dan inderanya. Pikiran adalah parameter untuk memilih apa yang baik dan bermakna. Agama menggenapi potensi akal untuk mengetahui dan menentukan benar dan salah suatu sikap, kata-kata, maupun perbuatan.

Pikiran membedakan manusia dari binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda mati. Dengan berpikir, manusia bisa menentukan apa yang bermanfaat dan mudarat; mana yang positif dan negatif. Dengan berpikir manusia memilih mana yang cocok un tuk dirinya, dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Perkataan dan perbuatan dimulai dari pikiran. Pikiran mendorong setiap perbuatan dengan segala dampaknya. Pikiran menentukan kondisi jiwa, tubuh, kepribadian, dan rasa percaya diri. Sumber setiap perilaku adalah pikiran. Dengan pikiran orang bisa maju atau mundur, bahagia atau sengsara.

Setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Sejumlah pikiran itu membutuhkan pengarahan. Jika dipandu ke arah negatif, maka pikiran itu akan keluar dari memori ke arah negatif. Jika dituntun ke arah positif, maka sejumlah pikiran yang sama juga akan keluar dari ruang memori ke arah yang positif.

Berpikir melahirkan pengetahuan, pemahaman, nilai, keyakinan, dan prinsip hidup. Pikiran menjadi titik tolak bagi tujuan dan mimpi-mimpi, referensi dalam eksperimentasi, dan perjalanan hidup. “Dengan pikiran seseorang bisa menjadikan dunianya berbunga-bunga atau berduri-duri.”

Islam adalah pembebasan. Al-Quran membebaskan manusia dari kegelapan dalam arti yang seluas-luasnya. Menjadi muslim bebas dari segala pengabdian kepada yang selain Allah swt. Berbakti hanya kepada-Nya semata. 

Mereka yang mengambil pelindung selain Allah berkata, “Kami menyembah mereka hanya untuk mendekatkan kami kepada Allah.” (QS 39:3).

Ada orang yang menyembah selain Allah, seperti harta, kekuasaan, ilmu, atau keinginan pribadi. Orang dapat berkata bahwa semua itu hanya simbol yang membawa lebih dekat kepada perkembangan diri dan mendekatkan ke tujuan hidupnya, lalu mendekatkan kepada Allah.

Islam membebaskan manusia dari kebodohan dengan membaca.

“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan- menciptakan manusia dari segumpal darah beku. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah,- Yang mengajarkan kepada manusia menggunakan pena,- mengajar manusia apa yang tak ia ketahui.” (QS 96:1-5).

Kata bahasa Arab untuk “mengajar” dan “ilmu” dari akar kata yang sama: ‘alima-ya’lamu. Membaca bukan hanya kewajiban untuk mengetahui ajaran Allah swt, tetapi juga tanggung jawab untuk menyebarluaskan kebenaran yang telah dibaca, ditelaah, dan dipahaminya.

Nabi Muhammad saw memberikan pilihan kepada para tawanan perang untuk menebus dirinya dengan mengajarkan membaca kepada orang-orang mukmin. Kemampuan membaca dan menulis pun menjadi sarana penjagaan, pemeliharaan, dan pengabadian Al-Quran, serta pengembangan ilmu pengetahuan.

Islam membebaskan manusia dari kebodohan dengan mengajarkan Al-Quran dan metode berbicara.

“Maha Pemurah Allah! Yang mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia; Dia mengajarkan kepadanya beribacara.” (QS 55:1-4).

Wahyu itu datang dari Allah Yang Maha Pemurah. Itulah tanda karunia-Nya yang terbesar. Dia sumber segala ilmu dan cahaya. Cahaya-Nya memancar ke segenap alam raya.

Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seolah sebuah rongga di dalamnya ada sebuah pelita. Pelita itu dalam bola kaca, dan bola kaca itu laksana bintang berkilau, dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang diberkati, yang tumbuh tidak di timur dan tidak di barat. Minyaknya hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing pada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki. Allah memberikan perumpamaan-perumpamaan kepada manusia, dan Allah Mahatahu atas segala. (QS 24:35)

Allah mengajari manusia berbicara jelas dan mudah dicerna, menyatakan isi hati dan pikiran, memahami dengan terang hubungan sesuatu dan menjelaskannya. Di samping ilham dalam hati, wahyu melalui para rasul berupa ayat qauliyah, Allah membantu pula dengan wahyu dalam alam semesta berupa ayat kauniyah.

Allah memberikan kesempatan yang sama di majelis ilmu bagi semua.

Hai orang-orang yang beriman! Jika dikatakan kepadamu berilah tempat dalam pertemuan, maka berilah tempat, Allah akan memberi tempat yang lapang kepadamu. Dan bila dikatakan berdirilah, maka berdirilah. Allah akan mengangkat derajat orang beriman di antara kamu dan mereka yang telah diberi ilmu. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS 58:11).

Islam membebaskan manusia dari perbudakan.

Kebaikan itu karena beriman, memberikan harta benda yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, fakir-miskin, orang dalam perjalanan, mereka yang meminta dan untuk memerdekakan budak… (QS 2:177).

Tidak sepatutnya seorang mukmin membunuh orang mukmin yang lain, kecuali bila terjadi kekeliruan. Siapa yang membunuh seorang mukmin karena kekeliruan ia harus  memerdekakan budak mukmin dan membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarganya, kecuali jika mereka menyedekahkan. Tetapi jika ia dari golongan yang bermusuhan dengan kamu dan ia seorang mukmin, maka cukuplah memerdekakan seorang budak mukmin. Dan jika ia dari golongan yang antara kamu dengan mereka terikat suatu perjanjian, maka  membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarganya dan memerdekakan seorang budak mukmin. Bagi siapa yang tidak mampu berpuasalah dua bulan berturut-turut sebagai tobat kepada Allah. Allah Maha Tahu, Maha Bijaksana (QS 4:92).

Meskipun Allah sudah menganugerahkan berbagai kemampuan dan bimbingan kepada manusia, namun sebagian manusia tidak berhasrat menempuh jalan yang terjal dan sulit untuk kebaikan rohaninya, yakni amal yang baik, cinta yang tulus, memerdekakan budak, memberi makan anak yatim dan orang miskin yang bergelimang di atas debu (QS 90:11-16).

Perbudakan identik dengan penjajahan. Secara resmi perbudakan telah dihapuskan di semua negara beradab, tetapi penjajahan masih subur di kalangan masyarakat. Penjajahan politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Ada pula penghambaan kepada harta, nafsu atau kekuasaan. Orang yang bijak akan berusaha melepaskan diri sendiri dan orang lain dari berbagai macam perbudakan dan penjajahan itu.

Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia angkat derajat dan martabat manusia dengan ayat-Nya, tetapi manusia cenderung pada dunia dan mengikuti hawa nafsunya yang rendah. Perumpamaan orang ini seperti anjing; jika dihalau menjulurkan lidah, dan jika dibiarkan ia juga menjulurkan lidah (QS 7:176).

Sudahkah kaulihat orang yang mempertuhan hawa nafsunya dan Allah membiarkannya sesat, dan Dia pun memateri pendengaran dan hatinya, dan dipasangnya penutup di matanya? (QS 45:23).

Islam membebaskan manusia dari penindasan.

Mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah; untuk mereka yang lemah – laki-laki, perempuan, dan anak-anak, yang berkata, “Tuhan, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim, dan berilah kami dari pihak-Mu pelindung dan berilah kami dari pihak-Mu penolong.” (QS 4:75).

Islam membebaskan dari kerusakan.

Kerusakan telah tampak di darat dan di laut karena perbuatan tangan-tangan manusia. Dia akan merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar (QS 30:41).

 Ada penyakit dalam hati mereka dan Allah menambah penyakit mereka. Bila kepada mereka dikatakan, “Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab, “Tidak, kami bahkan berbuat kebaikan.” Sungguh, merekalah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar (QS 2:10-12).         

Ada orang yang mendengar, tetapi tidak memperhatikan; melihat, tetapi tidak menangkap makna yang dilihat; merasakan, tetapi tidak menghayati. Orang buta bukan orang yang buta mata kepala, tetapi buta mata hati.

Hanya orang-orang yang pernah dijajah yang dapat merasakan arti kemerdekaan. Kemenangan adalah milik orang-orang yang berjuang. Siapa yang ingin menjadi manusia yang merdeka, bebas, dan membebaskan, hendaklah bertawakal kepada Tuhan.

  

*Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., Guru Besar Tafsir Al-Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penulis trilogi Kamus Pintar Al-Quran, Kearifan Al-Quran, 10 Tema Utama Al-Quran (Jakarta: Gramedia, cetak ulang 2021), dan 60-an buku lainnya.  

 

 

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here