Everyone [Seemingly] wants to be Indonesian

0
1912

 

“[Are you] from Indonesia?”

Pertanyaan ini muncul begitu tiba-tiba. Dari seorang yang, dilihat dari wajah dan kulitnya, aku meyakininya berasal dari semenanjung Balkan. Aku kehilangan keseimbangan. Perlu beberapa detik untuk kemudian tersadar bahwa aku sedang ditanya oleh seseorang.

“Yes.”

Kami saling duduk di atas beton tempat wudlu. Dinaungi oleh birunya Masjid Sultan Ahmad Shah UIA (Universiti Islam Antarabangsa) yang legendaris itu. Di Kuala Lumpur.

Kami terlibat pembicaraan kecil sebelum kemudian saling menghamburkan diri berjamaah shalat. Tapi dari percakapan yang sebentar tadi, aku merasakan ada kesan mendalam pada pemuda Balkan tersebut. Ia terlihat sangat antusias dengan orang Indonesia.

Apakah aku sebagai orang Indonesia terlihat over confident sebab merasa diperlakukan “berbeda” dibanding warga Negara lain yang serumpun? Atau justru masih menderita cultural shock? “Masak digitukan saja sudah GR?” Mungkin saja benar. Entah salah satu atau justru keduanya. Tapi sepanjang pengalaman empat tahun belajar di UIA, aku menemukan beberapa fenomena serupa.

“I am from Central Java,” seru seorang kawan lagi dari Bangladesh.

Demi mendengar perkataan ini, tawa kami berderai-derai. Saya heran bagaimana ia dengan spesifik langsung menyebut ‘Central Java”. Bukan “Indonesia” saja.

Kawan saya yang satu ini sedang mengambil PhD dalam bidang Ushuluddin. Disertasinya mengulas pemikiran Badi’uzzaman Said Nursi. Ia juga seorang dosen di Dacca University. Pembawaannya sangat ramah. Very very friendly. Ketika masih belajar bahasa Arab di CELPAD dulu, ia sama sekali tidak canggung untuk belajar dan berbagi informasi. Bahkan dengan para pelajar S1 sekalipun.

Usut punya usut, ternyata ia adalah di antara pengagum Prof. Dr. Anis Malik Thoha. Rektor Unissula Semarang sekarang.

“[Dr Anis is] very very good. Everyone likes his class.”

Sudah lama kami tidak ketemu. Mungkin saja ia sudah kembali ke Bangladesh. Sebab, ketika main ke UIA akhir-akhir ini pun, saya sudah tidak pernah menjumpainya. Kembali menjadi the most favorite lecturer di Dacca sana. Ia pandai sekali mengartikulasikan gagasannya. Cara berbicaranya selalu terstruktur.

“That [point I have recently talked about] is number one. Two, …”

Selalu demikian. Padahal itu adalah hanya pembicaraan “kosong” di kantin Utsman sambil minum teh O limau.

Ia juga sangat mengagumi Gontor. Bahkan ketika itu berencana membawa satu rombongan ke Gontor.

Tidak hanya itu. Masih ada lagi.

“Piye kabare sampeyan?”

“Hahhh!!!???”

Pupil saya membesar. Mulut mengagah. Heran seribu heran mendengar bahasa Jawa ini keluar dari mulut seorang pelajar dari Afrika Barat sana. Nigeria.

Saya perlu beberapa menit untuk menyadari dengan benar bahwa saya sedang duduk. Di ruang Head of Department of Fiqh and Usul al-Fiqh. Supervisor saya. Yang kebetulan juga dari Nigeria. Beliaulah yang mengenalkan saya dengan penutur “Piye kabare sampeyan?” di atas. Ahad pagi itu memang saya seorang diri yang berasal dari Asia Tenggara. Ketiga lainnya adalah Afrika semua.

Cara senyum kawan baru saya tadi benar-benar Jawa. Saya menggeleng-gelengkan kepala berulang kali. “Kok ada orang Afrika bisa bahasa Jawa?”

Ternyata ia pernah belajar di Al-Azhar Mesir. “Konco-koncoku akeh wong Indonesia. Jowo, Kalimatan, Sulawesi.”

Dan tawaku tidak terbendung lagi ketika ia menyebutkan, “[soko] Lamongan [yo ono].”

Hahaha….

Antara Bertransaksi dan Mengasihi

Patut untuk “dicurigai”, apa yang menjadikan orang Indonesia terlihat begitu menarik? Everyone wants to be Indonesian. Hampir semua jenis warga Negara merasa nyaman berkawan dengan orang Indonesia. Bahkan seakan-akan ingin menjadi orang Indonesia. Satu kemungkinan adalah – semoga saya tidak berlebihan – karena keramahannya. Sifat mengasihinya kepada sesama. Mereka begitu mudah iba kepada orang lain untuk kemudian menolongnya. Mereka begitu mudah akrab.

Tapi, di saat yang sama, benar apa yang dikatakan sementara orang. Kelemahan seseorang terletak pada kelebihannya. Kelemahan orang Indonesia terletak juga pada keramahan mereka. Kepada sifat kekeluargaannya. Kadang-kadang keramahan dan kekeluargaan tersebut tidak diletakkan pada tempatnya. Sampai dibawa di kantor-kantor. Untuk pelbagai urusan birokrasi. Yang tentunya penuh dengan transaksi.

“Eh, Bro! Punya ‘kenalan’ di KBRI ndak?” tanya seorang kawan yang ingin menguruskan passport.

“Sudah, ke sana saja. Dia kan ‘orang kita’,” suruh seorang senior.

“Ojo kuatir. Engko tak ke’i nomere areke,” nasihat seorang kawan menenangkan. Ketika ingin membuat SIM.

Dialog-dialog seperti inilah yang sering kali kita temukan. Di percakapan harian. Tak peduli, dari akademisi hingga pekerja bangunan. Dan inilah yang rasanya menjadikan kemajuan bangsa kita sementara ini tampak hanya “jalan di tempat”.

Penggal percakapan itu dengan sendirinya menjadi wajah yang mencerminkan betapa buruk apa yang ada di dalamnya. Mereka belum bisa membedakan kapan sikap kekeluargaan tersebut semestinya ditempatkan. Padahal Rasulullah Saw mengajarkan, dalam bermu’amalah kita mesti bersikap waspada. Seakan-akan orang yang sedang berurusan dengan kita adalah orang yang sama sekali tidak kita kenal. Orang asing. Ghurabā’. Adapun dalam urusan-urusan yang bersifat non-mu’amalah, maka sikap kekeluargaan itulah yang mesti kita bawa. Kita kasihi keluarga kita, kawan kita, dengan sebaik-baiknya.

Merenungi hal ini, saya menjadi teringat akan satu petang. Ketika mengikuti kelas Prof Dr Arif Ali Arif. Yang asal Baghdad itu. Yang konon beliau sudah mengkhatamkan Ihya’ Ulumiddin sebanyak empat puluh kali. Yang saya merasakan kelasnya tidak hanya berisi sekumpulan doktrin fiqh, namun juga tasawuf. Penuh dengan mahabbah.

Jika kelas hanya berisi 6 hingga 7 orang, maka beliau akan selalu membawa kami ke ruang pribadinya. Lalu ia tidak akan memulai pelajaran kecuali membuka Nescafe sejumlah mahasiswa yang hadir.

“Muḥāḍarah bi Nescafe khayrun min al-muḥāḍarah bi dūn Nescafe,” seloroh beliau waktu itu.

“Khallinī an usā‘idaka, ya duktūr,” pinta kami agar kami sajalah yang menguruskan hidangan Nescafe tersebut.

“Lā lā lā. Anā urīd an akhduma ṭālibī bi yadī,” jawab beliau yang memang ingin menjadi khadim bagi para muridnya.

Ya Allah. Hati saya kelu memandangi diri saya sendiri. “Adakah saya sudah seperti beliau? Atau akan mampu seperti beliau? Seorang professor 70 tahun lebih yang mengikhlaskan dirinya melayani para muridnya. Menghidangkan Nescafe. Dengan tangannya sendiri.

“Akhdumu ṭālibī bi yadī.”

Sebab itulah. Setiap kali keluar kelas Fiqh al-Muqāranah beliau, saya menjadi sangat dan sangat tercerahkan. Tidak hanya cecapan lidah, tapi akal terisi, dan hati pun terlatih.

Dan tentang bagaimana kita meletakkan sikap kekeluargaan tersebut, dalam Muhāḍarah Nescafe tersebut, dengan mengutip sebuah perkataan yang cukup terkenal, beliau berpesan:

“Ta‘āmalū ka l-ghurabā’ wa taḥābū kā l-ikhwān.”

Dalam bermu’amalah, maka setiap orang yang kau temui adalah asing. Karena itu, waspadalah. Catatlah. Namun di luar mu’amalah, maka saling mengasihilah kamu sehingga seakan-akan saudara sendiri.

Di sinilah rasanya kita harus kembali bercermin diri. Iya, benar. Keramahan dan kekeluargaan orang Indonesia sudah semestinya kita rawat. Itulah warisan nenek moyang kita. Keramahan adalah universal. Siapa saja yang kita ajak bicara dengan ṭalāqatu l-wajh, dengan muka yang riang dan hati yang ikhlas, pasti akan gembira. Dan sebaliknya, siapa saja yang didiamkan pasti juga akan merasa tersinggung. Namun kita juga harus tahu tempatnya. Sebab, li kulli maqām maqāl, wa li kulli maqāl maqām. Wallahu A’lam.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here