Penulis Tafsir Perempuan Aisyah Abdurrahman

0
118

Oleh: Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

Prof. Dr. Aisyah Abdurrahman, M.A., lahir pada 6 November 1913 di Dumyath, di daerah sebelah barat sungai Nil. Ia memakai nama pena Bintusy Syathi’, yang artinya anak perempuan tepian sungai. 

Bintusy Syathi’ tumbuh dalam lingkungan keluarga muslim yang taat. Ayahnya, Abdurrahman, adalah tokoh sufi dan guru akidah di Dumyath.

Pada masa kecil, Bintusy Syathi` hampir tidak memiliki waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayanya. Ayahnya selalu mengikutsertakan Bintusy Syathi`, baik di rumah maupun di kantornya di Universitas al-Bahr, untuk mengaji.

Bintusy Syathi’ sering mendengar Al-Quran yang dibaca ayahnya dan temannya. Berkat kemampuan intelektualnya, sejak kecil Bintusy Syathi` hafal beberapa ayat Al-Quran, terutama surah-surah pendek yang ia dengar berulang kali.

Pada tahun 1918, di usia lima tahun, ia mulai belajar menulis dan membaca di bawah bimbingan Syekh Murs di Shubâ Bakhûm, desa ayahnya. Ia mulai menghafal Al-Quran hingga hafal Al-Quran secara keseluruhan.

Kitab pertama yang menjadi perhatiannya adalah Al-Quran. Itulah inspirasi terbesar yang mendorongnya mencintai ilmu dan mengalirkan semangat belajar  dalam darahnya. Ayahnya seorang alim. Dialah yang menanamkan kecintaan pada ilmu, tapi dia juga yang menghalangi jalannya. Maka Bintusy Syathi’ tabrak halauannya. Ia tumbuh menjadi perempuan Arab modern, rasional, berwawasan luas, berbudaya, dan berkomitmen pada nilai Islam.

Di masa sekolah menengah, kakeknya sering meminta Bintusy Syathi’ membelikan koran Al-Ahram dan Al-Muqattam. Di kedua koran tersebut, sang kakek kerap menulis kritik ke pemerintah tentang pengelolaan sungai Nil yang penuh limbah, sehingga mengancam kelestarian biota dan keselamatan nelayan. Kritiknya didiktekan kepada cucunya untuk diketik. Dari sini, kecintaan Bintusy Syathi’ pada dunia tulis-menulis tumbuh.

Pada tahun 1920, Bintusy Syathi` menyatakan hasratnya untuk masuk sekolah formal, akan tetapi keinginan tersebut ditolak oleh ayahnya. Menurut ayahnya, tidak layak bagi putri syekh bersekolah di sekolah sekuler. Ia harus belajar di rumahnya.

Ketika ayahnya mengadakan perjalanan beberapa hari, ibunya mendorong Bintusy Syathi` untuk pergi ke al-Mansyurah guna mengikuti test masuk sekolah guru. Setelah pengumuman lulus ujian, Bintusy Syathi` tidak menerima surat tanda lulus dari guru sekolah, sementara semua temannya yang telah mengikuti test yang sama telah menerima surat tanda lulus.

Bintusy Syathi memutuskan untuk mengirim surat kepada sekolah yang bersangkutan untuk menanyakan tentang masalahnya, kemudian dia menerima surat yang sangat mengejutkan yang memberitahukannya bahwa permohonannya telah ditarik kembali oleh ayahnya.

Bintusy Syathi sangat beruntung, karena mendapat persetujuan dari atasan ayahnya, Syekh Mansûr Ubayy Haykal al-Sharqaw untuk melanjut studi. Bintusy Syathi belajar pada sekolah keguruan di Tanta.

Karier akademiknya dimulai dengan menjadi guru sekolah dasar khusus perempuan di Al-Mansuriyyah pada tahun 1929, kemudian menjadi supervisor pendidikan di sebuah lembaga bahasa Inggris dan Prancis pada tahun 1932.

Karir jurnalistiknya berawal ketika ia masih belajar di sekolah menengah pertama. Pada tahun 1933, ia dinobatkan sebagai editor utama Majalah al-Nahdhah al-Nisa`iyah. Ia aktif pula menulis di surat kabar terkemuka Mesir, al-Ahram.

Satu-satunya cara untuk memenuhi ambisinya untuk mengejar studi lebih lanjut adalah meminjam buku yang berhubungan dengan pendidikan keguruan yang diperlukan untuk bersiap-siap menghadapi ujian.

Setelah berhasil menyelesaikan studi dari sekolah keguruan dengan kualifikasi rangking pertama dari sejumlah seratus tiga puluh peserta, ia menjadi seorang guru di al-Manshurah. Di samping aktif mengajar, ia menghabiskan waktunya menelaah berbagai buku sebagai persiapan tes masuk perguruan tinggi.

Pada tahun 1934, setelah memperoleh BA, ia dipromosikan untuk menjadi sekretaris pada perguruan tinggi tersebut. Selain menekuni dunia pendidikan, ia juga aktif menulis pada berbagai media massa, pernah menjadi editor surat kabar.

Bintusy Syathi’ adalah nama samaran dalam tulisannya yang dikirim ke majalah dan surat kabar, agar tidak dikenal oleh ayahnya yang masih kolot. Ia khawatir jurnal dan surat kabar yang memuat cerpen dan artikelnya menjangkau tempat kelahirannya.

Semasa menjadi mahasiswi, Bintusy Syathi’ menulis untuk beberapa majalah perempuan Mesir. Pada 1935, ia diminta menjadi penulis tetap di harian terbesar Mesir, Al-Ahram. Untuk menyamarkan identitasnya, ia menggunakan nama pena Bintusy Syathi’, putri pesisir atau gadis pantai, mengacu pada desa Dumyat, tempat air sungai Nil dan laut Mediterania bertemu.

Ia menikah dengan dosennya Ustadz Amin Al Khauli, dan dikaruniai 3 orang anak. Pada tahun 1939 Bintusy Syathi menjadi asisten dosen di Universitas Cairo sekaligus sebagai kritikus sastra di koran Al-Ahram.

Tahun 1941 Bintusy Syathi` menyelesaikan jenjang master. Tahun berikutnya menjadi inspektur Bahasa dan Sastra Arab pada Kementerian Pendidikan, dan pada tahun yang sama dia dipercaya menjadi editor pada majalah terkemuka di Mesir, al-Ahrâm. Ia menerbitkan novel Master of the Estate, yang menggambarkan gadis petani korban budaya patriarki dan feodalisme.

Tahun 1950 Bintusy Syathi` berhasil meraih gelar doktor dengan judul disertasi Al-Ghufran li Abil A’la Al-Ma’ari. Sejak tahun 1950-1957, dia bekerja sebagai dosen bahasa Arab di Universitas Ain Shams.

Pada tahun 1957-1962 Bintusy Syathi’ menjadi asisten profesor sastra Arab pada universitas yang sama. Pada tahun 1962 dia menjadi profesor, dan pada tahun 1967 dia dikukuhkan menjadi Profesor dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Ain Shams. Sejak itulah ia menjabat Guru Besar Bahasa dan Sastra Arab pada Universitas Ain Shams Mesir dan kadang-kadang menjadi Guru Besar Tamu pada Universitas Islam Umm Durman, Sudan dan Universitas Qarawiyyin, Maroko.

Pada tahun 60-an, Aisyah Abdurrahman menjadi aktivis keagamaan dengan memberikan ceramah pada para sarjana di Roma, Aljazair, Baghdad, New Delhi, Kuwait, Rabat, Khartoum, Fez, dan Yerussalem. 

Namanya mulai menjadi buah bibir masyarakat umum karena aktivitasnya dalam mengkaji sastra Arab dan tafsir Al-Quran. Bahkan, dia disebut sebagai perempuan pertama yang menulis tafsir.

‘Aisyah Abdurrahman yang dikenal luas dengan nama samarannya, Bintusy Syathi, pada era modern telah mengukuhkan dirinya, karena studinya mengenai sastra dan tafsir Al-Quran.

Bintusy Syathi’ mulai tertarik pada kajian Al-Quran sejak pertemuannya dengan Al-Khuli, dosen yang kelak menjadi suaminya yang meninggal dunia pada tahun 1960an. Dalam suasana hati yang dirundung duka, bintu Syathi’ menulis novel otobiografi berjudul, ‘Ala al-Jisr. Kata al-jisr yang berarti jembatan, menunjukkan cinta mereka bagaikan jembatan antara gadis kampung dengan seorang pemikir besar. Novel ini menceritakan pertemuannya dengan Al-Khuli di kuliah tingkat II.

Saat itu, kata bintu Syathi’, “seorang dosen gagah dan berwibawa memasuki kelas kami. Ia menyampaikan salam dan berkenalan, lalu langsung membicarakan rencana perkuliahan. Ia mengampu mata kuliah Ulumul Quran. Kami diberi kebebasan memilih tema pembahasan untuk dipresentasikan.”

Bintusy Syathi’ menulis, “Dengan semangat, aku menjadi mahasiswa pertama yang mengacungkan tangan dan menawarkan diri menjadi pembahas pertama tentang Nuzulul Quran.” Sang dosen bertanya, “Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyiapkan materi?” Bintu Syathi’ menjawab, “Bagi saya, cukup sehari.” Sang dosen memintanya realistis tentang tenggat waktu.

“Apakah cukup saya merujuk pada kitab Al-Burhan karya Badr Al-Zarkasyi, kitab Al-Itqan dan Al-Lubab karya Jalal Al-Suyuthi, serta Sirah Al-Hasyimiyah, Thabaqat Ibnu Sa’d dan Tafsir Ibnu Jarir Al-Thabari?” Pertanyaan ini dijawab oleh Al-Khuli, “Cukup salah satu dari kitab yang kamu sebutkan itu, jika kamu mampu memahaminya dengan baik.” Bintu Syathi’ berhasil membuktikan kecerdasan dan keuletannya.

Menurut Bintusy Syathi’, salah satu sebab kegagalan para mufasir dalam mengungkap makna al-Quran, karena masuknya berbagai materi di luar al-Quran dan melupakan keunikan aspek kebahasaan al-Quran itu sendiri. Bintu Syathi’ ingin membiarkan al-Quran berbicara sendiri tentang dirinya dan mengungkapkan maknanya sendiri, tanpa dicampur kisah Israiliyat, cerita Injil, dan mitos.

Beberapa prinsip penafsiran Al-Quran Bintusy Syathi, pertama, sebagian ayat Al-Quran menafsirkan sebagian ayat yang lain. Kedua, munasabah, mengaitkan kata atau ayat dengan kata ata ayat di dekatnya. Ketiga, mempertimbangkan suatu masalah berdasarkan pesan redaksi ayat yang umum, bukan berdasar sebab khusus. Keempat, tidak ada sinonimitas makna dalam Al-Quran. Setiap kata dalam al-Quran mempunyai makna tertentu. Penggantian suatu kata dengan kata lain menghilangkan spirit, efektivitas, ketepatan, esensi, dan keindahannya.

Bintusy Syathi dinobatkan sebagai pakar ilmu sastra oleh pemerintah Mesir (1978), pemerintah Kuwait (1988), dan Raja Faishal (1994). Ide-ide briliannya menarik perhatian beberapa penerbit dan media untuk menerbitkan karya-karyanya. Tema-tema yang diangkat lebih banyak berkisar tentang sastra, sejarah, dan tafsir Al-Quran.

Bintusy Syathi’ juga menulis tentang isu-isu yang banyak berkembang di dunia, seperti posisi wanita yang mengalami perubahan, perjuangan orang-orang Arab memerangi imperialisme Barat dan Zionisme.

Karyanya sekitar 40 judul buku dalam bidang dirasah islamiyyah, fikih, tafsir, sastra, dan lainya telah terbit di Mesir dan beberapa negara Arab. Di antaranya al-Ghufran li Abi al-‘Ala’ al-Ma‘arri dan At-Tafsir al-Bayani lil Qur’anil Karīm merupakan magnum opus Bintusy Syathi, yang terdiri dari dua jilid (tahun 1966, 1968, dan 1969). Meskipun hanya terdiri atas empat belas surat pendek, namun publik sangat apresiatif dengan karya ini.

Karya-karya ilmiah Bintusy Syathi’ lainnya Kitabuna Akbar, terbit di Umm Duman, Maroko (1967), Maqal fil Insan, Dirasah Qur’aniyah, Darul Ma’arif, Kairo (1966), Al-Qur’an wat Tafsir Al-‘Ashri, Darul Ma’arif, Kairo (1971), Al-I’jazul Bayani lil Qur’anil Karim, Darul Ma’arif, Kairo (1971), Al-Hayatul Insyaniyah ‘inda Abil A’la, Darul Ma’arif, Kairo (1944), Nisa’un Nabi, Banatun Nabi, Ummun Nabi, Darul Hilal, Kairo, Al-Mafhumul Islami li Taqriril Mar’ah, 1967, Lughghtuna wal Bayan, Kairo (1969).

Pada hari Selasa, 1 Desember 1998, Bintusy Syathi menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 85 tahun.  Bintusy Syathi telah meninggal dunia, tapi namanya akan selalu hidup karena telah memberikan warisan untuk kemajuan ilmu-ilmu Islam di bidang Tafsir.

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here